
NETSULSEL | Makassar, Kabar mundurnya Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), dari jabatannya sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kota Makassar menuai sorotan mendalam dari kalangan akademisi. Langkah politik ini dinilai bukan sekadar dinamika internal partai, melainkan cerminan dari pergeseran peta kekuatan politik nasional yang kini kian berpusat pada personalitas figur ketimbang institusi partai politik.
Pengamat Politik dari Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Dr. Arief Wicaksono, menilai fenomena melemahnya peran dan identitas partai politik sebenarnya telah terdeteksi sejak awal era Reformasi di berbagai belakangan wilayah Indonesia.
Menurut Arief, kecenderungan pemilih yang lebih tergerak oleh figur individual ketimbang loyalitas ideologis partai telah dibuktikan oleh berbagai riset empiris. Salah satunya merujuk pada penelitian Saiful Mujani dan R. William Liddle (2010) bertajuk “Indonesia: Personalities, Parties, and Voters”. Berdasarkan survei nasional pasca-Pemilu 2009, studi tersebut menemukan bahwa preferensi pemilih Indonesia jauh lebih dipengaruhi oleh personalitas kandidat dan strategi kampanye media dibandingkan dengan identifikasi kepartaian (party ID).
”Kondisi ini dipertegas lagi oleh penelitian Suko Widodo (2015) tentang ‘Media Lokal dan Individuasi Politik’, yang menggambarkan secara eksplisit bagaimana personalisasi figur politisi dan peran media lokal menggeser peran tradisional partai politik,” ujar Arief.
Lebih lanjut, Arief menyoroti puncak dari tren individuasi politik ini makin menguat pada era Presiden Joko Widodo. Dengan mengadopsi gaya kampanye berbasis kerelawanan layaknya Barack Obama pada Pemilu AS 2008, pola politik nasional bergeser secara masif. Figur yang memiliki basis massa dan relawan yang kuat pada akhirnya mampu mendikte keputusan partai politik yang kerap kali mengekor pada hasil survei akibat lemahnya sistem kaderisasi internal.
Daya Tawar Politik Appi
Dalam konteks wacana pengunduran diri Appi dari kepemimpinan DPD II Golkar Makassar, Arief menilai bahwa Appi saat ini berada pada posisi tawar (bargaining power) yang jauh lebih solid dibandingkan partai politik manapun, baik itu Golkar, NasDem, Gerindra, maupun Demokrat.
”Appi memiliki modal politik yang sangat komplit: basis relawan yang militan, dukungan anggota dewan, jaringan keluarga serta bisnis yang mengakar, hingga basis suara riil. Modal individual ini membuat daya tawar Appi jauh melampaui kelembagaan partai politik itu sendiri,” tegas Arief.
Atas dasar dinamika tersebut, Arief menegaskan bahwa publik maupun elit politik tidak perlu lagi terjebak dalam romantisme masa lalu yang berharap partai politik akan tumbuh menjadi institusi yang besar dan dominan secara alamiah.
”Saat ini sedang tidak relevan lagi kita melakukan romantisme mengharap parpol tumbuh besar dan kuat. Realitas politik hari ini menunjukkan bahwa kekuatan nyata sedang dipegang oleh kekuatan figur, bukan lagi oleh partai politik,” pungkasnya. (ita)
















