NETSULSEL | Makassar, Definisi riil “dapat gift berupa borgol”. Maksud hati ingin gaya-gayaan berburu views dan followers di TikTok, lima anggota geng motor “Warser” di Makassar justru harus menyapa penontonnya sambil dijemput paksa oleh Tim Jatanras Polrestabes Makassar pada Rabu dini hari.
Penggerebekan yang berlangsung dramatis nan konyol ini terekam jelas dalam siaran langsung akun media sosial milik para pelaku. Tanpa perlu repot-repot pasang map atau pelacak canggih, polisi tinggal memantau feed TikTok untuk mengetahui lokasi markas mereka.
Modus Operandi: Sok Jagoan, Random, dan Butuh Validasi
Berdasarkan keterangan pihak kepolisian, geng motor ini memiliki modus yang terbilang cukup brutal sekaligus nirnalar:
Mencari Korban Secara Acak: Konvoi di tengah malam buta lalu menargetkan pengendara motor tunggal yang tidak punya masalah apa pun dengan mereka.
Penculikan dan Penganiayaan: Korban diculik, ditebas dengan parang, hingga dipanah menggunakan senjata busur tepat di bagian punggung sebelum ditinggalkan begitu saja.
Pamer Konten (Live Streaming): Usai melakukan aksi sadis di tiga titik lokasi (TKP) berbeda, mereka berkumpul di markas untuk menggelar siaran langsung demi pamer eksistensi di dunia maya.
Biang Kerok: Residivis Caper yang Tak Kunjung Kapok
Penyebab utama dari serangkaian teror jalanan ini tak lain adalah dahaga validasi sosial dan tabiat residivis sang pimpinan geng, Caizar (19 tahun). Meski usianya masih belasan, Caizar tercatat sudah berulang kali keluar-masuk Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atas kasus penganiayaan serupa.
Kanit Jatanras Satreskrim Polrestabes Makassar, AKP Sangkala, menegaskan bahwa motif kejahatan kelompok ini murni untuk membuat kerusuhan dan menyebar teror.
”Pelaku utama yang merupakan pimpinan kelompok ‘Warser’ ini adalah residivis. Modusnya menculik korban, melukai dengan parang, dan menancapkan busur panah ke punggung korban yang sama sekali tidak tahu masalahnya apa,” jelas AKP Sangkala.
Kini, Caizar dan empat kawanannya beserta barang bukti sepeda motor serta busur panah telah diamankan di Polrestabes Makassar untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sementara itu, kawan-kawan mereka yang lain masih dalam perburuan petugas.
Nasehat Hukum Jenaka Ala NETSULSEL
Ganti Algoritma Konten: Kalau kebelet mau FYP di TikTok, cobalah bikin konten dance challenge atau review jajanan malam. Jangan bikin konten “Tutorial Masuk Penjara Lewat Fitur Live”. Algoritma penjara tidak ada monetisasi-nya, cuma dapat jatah makan siang dari negara.
Filosofi Jam Pasur (Panah Busur): Ingat, busur panah itu sejatinya alat olahraga panahan di lapangan, bukan akupunktur gratis di punggung orang yang lagi lewat. Kalau korban sembuh, Anda tidak dapat gelar dokter; malah dapat gelar “Terdakwa Utama”.
Pahami Fitur Privasi: Kalau lagi melakukan kejahatan, minimal jangan di-share secara Public. Polisi itu bukan cuma patung di jalan, mereka juga punya kuota internet dan aplikasi TikTok. Menyalakan fitur Live saat ngumpul usai membegal sama saja seperti mengirimkan share location ke grup WhatsApp Tim Jatanras.
Ganti Nama Geng Motor: Nama gengnya “Warser” (Warung Serba Ada?). Mending ganti nama jadi “Warkop” aja. Beda tipis, tapi yang satu tempat minum kopi, yang satu lagi bikin Anda ngopi di balik jeruji besi. (syam)

















