NETSULSEL | Makassar, Tabir di balik aksi penyerangan brutal yang menewaskan seorang mahasiswa di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Makassar, akhirnya terkuak. Tim gabungan kepolisian bergerak cepat memburu kawanan pelaku dan berhasil meringkus 20 anggota gangster remaja yang diduga kuat sebagai dalang di balik pembantaian sadis tersebut, Senin (5/10/2026).
Penangkapan 20 pelaku ini menjadi titik terang dari peristiwa mencekam yang terjadi pada Minggu (4/10/2026) dini hari lalu. Ironisnya, alih-alih kelompok kriminal dewasa, rombongan bertindak keji yang merenggut nyawa M Akmar Makmur (24) dan melukai parah Muh Farel (17) itu didominasi oleh anak-anak di bawah umur yang masih berstatus pelajar SMP dan SMA.
Bahkan saat digerebek di tempat persembunyian mereka di Kabupaten Maros, beberapa pelaku ditemukan masih mengenakan seragam SMP.

”Iya benar, ada 20 orang yang berhasil kita amankan dari hasil pengejaran tim gabungan. Mayoritas dari mereka masih di bawah umur dan berstatus pelajar,” tegas Kapolsekta Biringkanaya, Kompol Setiawan Malik
Perburuan Kilat hingga ke Maros
Pengungkapan ini merupakan hasil kerja keras tim gabungan dari Resmob Polda Sulsel, Jatanras Polrestabes Makassar, hingga Opsnal Polsek Biringkanaya. Setelah mengidentifikasi kelompok penyerang pasca-kejadian, petugas langsung melancarkan operasi penyisiran lintas daerah hingga ke Kabupaten Maros.
Dari tangan 20 remaja gangster ini, polisi menyita berbagai senjata tajam mematikan yang digunakan untuk menghabisi korban secara keji, mulai dari parang, pisau, hingga anak panah busur.
”Saat ini seluruh terduga pelaku telah dibawa ke markas untuk menjalani pemeriksaan intensif. Penyidik masih mendalami dan memilah peran masing-masing pelaku dalam aksi penyerangan tersebut,” tambah Malik
Motif Janji ‘COD’ Perang Jalanan Lewat Media Sosial
Pengangkatan 20 remaja ini sekaligus membongkar fakta miris mengenai modus aksi kejahatan jalanan anak muda di Makassar. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, aksi brutal tersebut dipicu oleh janji temu untuk saling serang atau istilah yang mereka sebut COD (Cash on Delivery) perang jalanan melalui jejaring media sosial.
”Informasi sementara, dua kelompok yang terlibat ini memang kubu geng motor. Mereka janjian COD untuk bertemu dan bentrok di jalan,” terangnya.
Sebelumnya, peristiwa berdarah ini bermula ketika korban dan rekannya diserbu oleh konvoi geng motor di kawasan Jalan Daeng Ramang, Biringkanaya. Korban yang mencoba mengejar pelaku justru mengalami kecelakaan di kawasan Perlimaan Bandara. Situasi terjatuhnya korban dimanfaatkan oleh para pelaku remaja ini untuk berbalik arah dan membantai korban secara kalap menggunakan parang serta busur panah.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih terus melakukan pengembangan untuk memburu admin penggerak media sosial yang memprovokasi bentrokan berdarah tersebut. (sul)

















