
NETSULSEL | Jakarta, Kepemimpinan baru di Korps Bhayangkara langsung diwarnai manuver politik organisasi yang terhitung agresif. Hanya berselang sehari usai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto, Kapolri Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto memicu gelombang perombakan besar-besaran. Lewat Surat Telegram Nomor ST/2205/X/KEP./2026 tertanggal 2 Oktober 2026, sebanyak 88 Perwira Tinggi (Pati) dan Perwira Menengah (Pamen) resmi digeser dari posisinya.
Namun, daya tarik paling menonjol dari keputusan ini bukanlah sekadar angka 19 Kapolda yang diganti, melainkan arah pembersihan pengaruh pucuk pimpinan terdahulu. Jenderal Suyudi tampak secara konsisten menggeser deretan jenderal seangkatan Mantan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo (Alumni Akpol 1991).
Dari seluruh kepemimpinan kepolisian wilayah di tanah air, langkah konsolidasi kekuasaan Suyudi ini praktis menyapu bersih geng atau rekan seangkatan Listyo Sigit. Kini, hanya tersisa satu-satunya lulusan Akpol 1991 yang bertahan di kursi Kapolda, yaitu Irjen Pol Petrus Patrige Rudolf Renwarin yang menjabat sebagai Kapolda Papua.
Kapolda Papua
Irjen Pol. Petrus Patrige Rudolf Renwarin mendadak jadi sorotan. Perwira tinggi bintang dua ini menjadi satu-satunya alumni Akpol 1991 rekan seangkatan mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang posisinya tak tersentuh di jajaran Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda).
Saat jenderal-jenderal seangkatannya terdepak dari kursi pimpinan wilayah, Petrus tetap kokoh menjabat sebagai Kapolda Papua. Fenomena ini menarik perhatian pengamat politik kepolisian, mengingat restrukturisasi Suyudi dikenal sangat agresif menancapkan dominasi angkatannya sendiri (Akpol 1994).
Pria kelahiran Fakfak, 7 Juli 1969 ini memang bukan figur sembarangan. Mengawali karier spesialis di bidang intelijen dan komunikasi, Petrus memiliki rekam jejak panjang di tanah kelahirannya, mulai dari Kabid Humas Polda Papua (2014), Wakapolda Papua Barat (2020), Wakapolda Papua (2023), hingga dipercaya menjadi Kapolda Papua sejak 2024.
Dominasi “Angkatan 94” dan Pergeseran Peta Kekuatan
Sapu bersih ini sekaligus menandai dimulainya era baru yang didominasi oleh alumni Akpol 1994 angkatan yang sama dengan Jenderal Suyudi sendiri serta Akpol 1995. Sebanyak enam jenderal bintang dua dari Akpol 1994 kini memegang komando wilayah strategis, termasuk Irjen Pol Dadang Hartanto yang ditunjuk memimpin Kapolda Metro Jaya dan Irjen Pol Dekananto Eko Purwono sebagai Kapolda Jatim. Sementara itu, lima porsi Kapolda lainnya diserahkan kepada lulusan Akpol 1995.
Dalam kacamata politik kepolisian, fenomena “hanya menyisakan satu orang dekat Listyo” ini mencerminkan langkah tegas Suyudi dalam memusatkan komando kepemimpinan. Dengan menggeser para perwira senior era sebelumnya dan mempromosikan rekannya seangkatan, Kapolri anyar ini dinilai ingin memastikan loyalitas tunggal di tubuh Polri serta meminimalisasi potensi faksionalisme internal pascatransisi kepemimpinan nasional.
Daftar Lengkap Kapolda Era Baru Kapolri Jenderal Suyudi:
Akpol 1990 (Senior):
Irjen Pol Jawari (Kapolda Sumbar)
Akpol 1991 (Satu-Satunya Teman Seangkatan Listyo Sigit yang Tersisa):
Irjen Pol Petrus Patrige Rudolf Renwarin (Kapolda Papua)
Akpol 1992:
Irjen Pol Arman Achdiat (Kapolda Riau)
Irjen Pol Nurworo Danang (Kapolda Gorontalo)
Akpol 1993:
Irjen Pol Suhendri (Kapolda Kepri)
Irjen Pol Roy Hardi Siahaan (Kapolda Jateng)
Akpol 1994 (Angkatan Kapolri Suyudi):
Irjen Pol Dadang Hartanto (Kapolda Metro Jaya)
Irjen Pol Suwondo Nainggolan (Kapolda Maluku)
Irjen Pol Dekananto Eko Purwono (Kapolda Jatim)
Irjen Pol M Awal Chairuddin (Kapolda Sulsel)
Irjen Pol Widodo (Kapolda Jambi)
Irjen Pol Totok Suharyanto (Kapolda Sulbar)
Akpol 1995:
Irjen Pol Reza Arief Dewanto (Kapolda NTT)
Irjen Pol Hengki (Kapolda Jabar)
Irjen Pol Hendra Kurniawan (Kapolda Banten)
Irjen Pol Rizal Irawan (Kapolda Sulteng)
Irjen Pol Langgeng Purnomo (Kapolda DIY)
Akpol 1996:
Irjen Pol Pasma Royce (Kapolda Bali)
Irjen Pol Rony Samtana (Kapolda Sumsel)
Akpol 1997:
Irjen Pol Sonny Irawan (Kapolda Sumut)








