Suara Kecil dari Panggung FTBI 2026: Perjalanan Qanita Qairen Merawat Asa dan Bahasa Ibu

Qanita Qairen, siswi kelas VII.6 SMP Negeri 46 Makassar (kanan jilbab warna putih)

NETSULSEL | Makassar,  ​Suara lembut namun penuh penghayatan itu menggema di lantai 6 Karebosi Premier Hotel, Makassar, pada Kamis, 22 Oktober 2026. Di balik sorot lampu Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kota Makassar, seorang siswi belia berdiri dengan keyakinan penuh. Ia adalah Qanita Qairen, siswi kelas VII.6 SMP Negeri 46 Makassar.

​Bagi Qanita, hari itu bukan sekadar unjuk kemampuan di atas panggung perlombaan mendongeng. Lebih dari itu, setiap kata yang ia luncurkan adalah wujud kecintaan yang tulus pada warisan leluhur dan bahasa daerah yang mulai tergerus zaman.

​Menghidupkan Nilai Budaya Lewat Dongeng
​Ajang yang diselenggarakan secara resmi oleh Dinas Pendidikan Kota Makassar ini bukan sekadar kompetisi biasa. Festival Tunas Bahasa Ibu dirancang sebagai wadah strategis untuk mendorong pelestarian bahasa ibu sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi muda melalui dunia pendidikan.

​Bagi Qanita, keikutsertaannya dalam cabang lomba mendongeng adalah sebuah proses panjang yang menuntut keberanian, kreativitas, dan ketekunan. Melalui cerita rakyat dan tradisi lisan yang dibawakannya, ia belajar menyerap nilai-nilai moral dan kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Perjuangan untuk menghafal, menghayati karakter, hingga tampil percaya diri di hadapan dewan juri dan penonton menjadi buah dari kerja keras serta latihan yang dijalaninya.

​Dukungan Penuh di Balik Layar
​Keberhasilan seorang pelajar tidak pernah lahir di ruang hampa. Di balik ketenangan Qanita di atas panggung, ada tangan dingin sang guru pendamping, Marlina S., S.Pd., yang dengan sabar membimbing dan menemani setiap langkah persiapannya.

​Semangat yang sama juga terpancar dari kepemimpinan Kepala UPTD SPF SMP Negeri 46 Makassar, Ikhsan, S.Pd., M.Pd. Beliau dikenal sebagai sosok yang tak pernah lelah mendorong para siswanya untuk terus meningkatkan kemampuan, menggali bakat terpendam, serta berani keluar dari zona nyaman dengan mengikuti berbagai kompetisi, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

​Dukungan penuh dari pihak sekolah ini menjadi bahan bakar utama bagi para siswa untuk tidak ragu bermimpi besar. Sekolah hadir bukan hanya sebagai tempat menimba ilmu teori, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter yang menumbuhkan kecintaan mendalam terhadap identitas budaya daerah.

​Partisipasi Qanita Qairen dalam FTBI 2026 membuktikan bahwa generasi muda Makassar memiliki kepedulian dan potensi besar. Dari sebuah panggung sederhana di hotel berbakat itu, Qanita telah menorehkan cerita tentang perjuangan seorang pelajar yang sukses merawat warisan budaya, membakar semangat teman-temannya, dan membawa nama baik sekolah dengan penuh kebanggaan. (nabil)