
NETSULSEL | Makassar, Universitas Hasanuddin (Unhas) baru saja meresmikan sebuah ruang kolaborasi megah di lantai 4 Gedung Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Kampus Tamalanrea, Sabtu (20/6). Ruangan itu bukan sekadar deretan kursi dan panggung formal, melainkan sebuah monumen hidup yang diberi nama: Auditorium Prof. Dr. M. Natsir Nessa.
Bagi sivitas akademika Unhas, nama Prof. Natsir Nessa adalah kompas. Tokoh kelahiran Belawa, 27 Desember 1948 ini, bukan sekadar pengajar, melainkan arsitek utama yang meletakkan fondasi kuat bagi ilmu kelautan di Indonesia Timur.
Kini, meski sang guru besar telah berpulang pada April 2023 lalu, warisan pemikiran dan dedikasinya resmi “diabadikan” di tempat terbaik.
Jejak Emas Sang Pionir, Dari Pertanian hingga PTNBH
Prof. Natsir Nessa dikenal sebagai sosok dengan integritas tanpa kompromi. Rekam jejaknya di Unhas adalah bukti nyata betapa waktu dan energinya habis untuk mengabdi. Beliau pernah menakhodai berbagai posisi krusial, di antaranya:
- Pionir Kelautan: Ketua Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan Unhas (1991).
- Akar Kelembagaan: Direktur Pasca Sarjana (2002-2004) dan Sekretaris Senat Unhas (2006-2016).
- Kiprah Nasional: Anggota Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Menjelang akhir hayatnya, saat menjabat sebagai anggota Majelis Wali Amanah (MWA) periode 2016-2018, Prof. Natsir menjadi salah satu pemikir yang merumuskan langkah strategis Unhas ketika bertransformasi menjadi Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH).
“Beliau selalu konsisten mendorong riset maritim berbasis potensi lokal. Beliau ingin Indonesia Timur menjadi Pusat Episentrum Kelautan Dunia” kenang salah satu kolega.

Simbol Penghormatan dan Estafet Inspiras
Prosesi soft launching auditorium ini berlangsung khidmat. Peresmian ditandai dengan pemotongan pita dan penandatanganan prasasti oleh Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Prof JJ), didampingi Dekan FIKP, Prof. Dr. Mahatma, S.T., M.Sc.
Dalam sambutannya yang menyentuh, Prof JJ menegaskan bahwa penamaan auditorium ini adalah bentuk utang budi dan penghormatan tertinggi institusi terhadap sang maestro.
”Nama besar Prof. Natsir Nessa akan selalu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkarya, berinovasi, dan mengabdikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat,” ujar Prof JJ dengan penuh takzim.
Menatap Dunia Lewat SYMARFISH 2026
Hebatnya, auditorium baru ini tidak dibiarkan menganggur. Begitu diresmikan, ruangan modern ini langsung “dibaptis” dengan event internasional bergengsi, SYMARFISH 2026.
Simposium dunia ini mengusung tema yang sangat relevan dengan impian Prof. Natsir semasa hidup: “Science-driven Innovation in the Blue Economy: Achieving Food Security and the SDGs”.
Dekan FIKP Unhas, Prof. Mahatma, menjelaskan bahwa auditorium ini dirancang sebagai ruang kolaboratif global untuk mendukung visi ekonomi biru yang berkelanjutan.
”Kami berharap auditorium ini akan mendukung pelaksanaan berbagai agenda ilmiah internasional serta memperkuat peran FIKP Unhas sebagai rujukan pengembangan ekonomi biru berkelanjutan,” pungkas Prof. Mahatma optimis.
Melalui fasilitas baru ini, semangat Prof. Natsir Nessa dipastikan akan terus mengalir. Dari ruangan inilah, ide-ide besar tentang masa depan laut Indonesia akan terus lahir dan mendunia. (ist)















