
NETSULSEL | Yogyakarta, Rencana dialog publik yang menghadirkan politisi Budiman Sudjatmiko dan Nusron Wahid di lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM) berakhir dengan aksi penolakan oleh sejumlah mahasiswa. Acara yang sedianya membahas isu-isu kebangsaan tersebut terpaksa dihentikan akibat aksi demonstrasi dan tekanan dari massa mahasiswa yang hadir di lokasi.
Kronologi Aksi Mahasiswa
Pantauan di lapangan menunjukkan, ketegangan mulai terasa sejak sebelum acara dimulai. Sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan diri dari elemen organisasi mahasiswa tersebut membentangkan spanduk penolakan di area tempat berlangsungnya acara.
Massa aksi menyuarakan keberatan atas kehadiran kedua narasumber tersebut. Suasana sempat memanas ketika pihak panitia mencoba melanjutkan dialog, namun massa mahasiswa terus melakukan aksi protes, yang akhirnya memaksa acara tersebut tidak dapat dilanjutkan sesuai rencana awal.
Alasan Penolakan
Menurut perwakilan mahasiswa, aksi ini merupakan bentuk aspirasi kritis terkait rekam jejak dan posisi politik kedua tokoh tersebut.
“Kami menilai dialog ini tidak memiliki urgensi bagi kebutuhan intelektual mahasiswa saat ini. Kami menolak kehadiran mereka karena dianggap tidak merepresentasikan nilai-nilai perjuangan yang seharusnya dijunjung oleh civitas akademika,” ujar salah satu perwakilan mahasiswa di lokasi.
Pagi ini situasi dikampus UGM Yogyakarta relatif kondusif. Masih ter;ihat aparat yang berjaga. Meski demikian kejadian pembubaran paksa dialog tersebut belum ada keterangan resmi dari pihak kampus maupun panitia penyelenggara.
Dampak Terhadap Kebebasan Akademik
Insiden siang kemarin ini memicu perdebatan di media sosial mengenai batas-batas kebebasan berpendapat di lingkungan kampus. Beberapa pihak berargumen bahwa kampus seharusnya menjadi ruang dialektika bagi siapa saja, sementara pihak lain berpendapat bahwa mahasiswa memiliki hak penuh untuk menentukan siapa yang layak untuk didengarkan dalam forum akademik mereka.(dibuat AI)










