Bayang-Bayang di Sisi Rotterdam: Riwayat 57 Tahun Lapak Kelapa yang Berakhir Senyap

NETSULSEL | ​Makassar, Malam itu, Rabu (24/6/26), atmosfer di sekitar benteng tua itu mendadak mencekam. Di bawah bayang-bayang dinding kokoh Benteng Rotterdam yang berusia ratusan tahun, belasan pedagang kelapa berjaga dalam kecemasan yang sunyi. Bersama sejumlah mahasiswa, mereka membangun benteng pertahanan terakhir. Bertahan dari sebuah kepastian yang menakutkan: penggusuran.

​Namun, Kamis pagi buta (25/6/26) tak membawa keajaiban. Pertahanan itu runtuh.

​Suara hantaman kayu yang beradu dengan tanah, gemeretak triplek yang patah, dan deru mesin kendaraan petugas seketika memecah keheningan Jalan Ujung Pandang. Sebanyak 19 lapak pedagang kelapa yang telah menjadi saksi bisu pergantian zaman di Kota Makassar, akhirnya diratakan dengan tanah.

​Tangisan histeris dan letupan emosi pecah di udara. Bagi para pedagang, pembongkaran ini bukan sekadar penegakan aturan, melainkan kematian pelan-pelan bagi sumber penghidupan mereka.

​”Humanis” di Balik Dinginnya Aturan

​Pemerintah Kota Makassar, yang dikawal ketat oleh personel TNI dan Polri, menyebut tindakan ini telah melalui pendekatan yang “humanis”.

​”Kita melakukan pendekatan secara humanis, sehingga para pedagang melakukan pembongkaran lapak mereka secara mandiri. Ini berkat komunikasi yang kita bangun sebelumnya,” ujar Asisten Pemkot Makassar, Andi Irwan Bangsawan, di lokasi kejadian dengan nada tenang di tengah sisa-sisa puing yang berserakan.

​Atas nama estetika kota dan penegakan Perda No. 7 Tahun 2014 tentang Ketentraman dan Ketertiban Umum, kawasan pedestrian harus dikosongkan dari pedagang. Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan tempat baru di Pasar Baru, tak jauh dari lokasi awal, lengkap dengan 30 armada angkutan barang gratis untuk memindahkan barang-barang mereka.

​”Mereka dipindahkan di tempat yang layak dan cukup bagus. Di tempat yang baru sudah disiapkan juga alat semuanya gratis,” tambah Irwan.

​Namun bagi para pedagang, kepindahan ini terasa seperti melangkah ke dalam ketidakpastian yang gelap.

Warisan 57 Tahun yang Tercabut hingga ke Akar
​Di sela-sela reruntuhan kayu yang dulunya adalah tempat mencari nafkah, berdiri Syahrir. Pria di balik jenama “Putra Benteng 99” ini menatap kosong ke arah tempatnya berdiri selama puluhan tahun.

​Bagi Syahrir, tempat ini penuh dengan “roh” masa lalu. Lapak ini bukan sekadar kayu dan atap seng; ini adalah warisan turun-temurun sejak 57 tahun yang lalu.

​”Lama mi saya jualan di sini, Pak. Bapak saya dulu jualan di sini sudah puluhan tahun, mulai dari zaman naik sepeda tua (onthel),” kenang Syahrir, suaranya bergetar menahan rintihan.

​Lapak kelapa di sekitar Rotterdam bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ikon kota yang legendaris. Mulai dari pelancong antarpulau hingga jajaran menteri negara pernah duduk di sana, menikmati kesegaran es kelapa muda di bawah embusan angin pantai Makassar.

​”Belum lama ini ada menteri mampir bersama rombongannya minum es kelapaku. Kalau pindah ke dalam pasar, pembeli bakal sulit didapat lagi karena tempatnya masuk ke dalam,” keluh Syahrir dengan tatapan nanar.

Aturan Versus Kebijaksanaan
​Para pedagang sebenarnya tidak buta hukum. Mereka mengaku siap tunduk pada aturan estetika kota, asalkan mereka tidak diusir dari tanah yang telah memberi mereka hidup selama lebih dari setengah abad.

​”Kami siap ikut aturan, tapi jangan gusur kami. Benahi kami, tata dan atur tempat kami agar bisa lebih bagus lagi,” harap Syahrir penuh kepasrahan.

​Kini, riuh rendah tawa pembeli dan aroma kelapa muda di sepanjang pedestrian Benteng Rotterdam telah lenyap, digantikan trotoar kosong yang sepi. Aturan telah ditegakkan dengan dingin, menyisakan tanya yang menggantung di benak para pedagang: apakah aturan kota selalu harus mengorbankan ruang bagi kemanusiaan?