
NETSULSEL | Makassar, Sebuah gerakan besar untuk mewujudkan Makassar yang lebih bersih dan berkelanjutan resmi dimulai. Pemerintah Kota Makassar menetapkan masa transisi selama tiga bulan terhitung sejak 1 Agustus 2026 bagi seluruh warga untuk membiasakan diri memilah sampah dari rumah, sebelum penegakan sanksi resmi diberlakukan.
Langkah ini bukan sekadar imbauan rutin, melainkan sebuah ajakan perubahan budaya. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, menegaskan bahwa penegakan Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar Nomor 4 Tahun 2011 akan menjadi benteng terakhir jika kesadaran kolektif belum terbangun.
”Masa tiga bulan ini adalah panggung pembuktian komitmen kita bersama. Sanksi Perda memang ada dan siap ditegakkan, namun prioritas utama kita bukanlah menghukum, melainkan membangun kesadaran bersama demi masa depan kota ini,” ujar Helmy Budiman, Sabtu.
Pendekatan Humanis. Edukasi di Depan, Penegakan di Belakang
Pemkot Makassar memilih jalan yang merangkul ketimbang memukul. Selama masa evaluasi, DLH bersama jajaran terkait fokus melakukan sosialisasi masif, edukasi lapangan, serta pemantauan secara berkala.
”Kami percaya bahwa perubahan sejati lahir dari pemahaman, bukan rasa takut. Pemerintah hadir dengan pendekatan yang humanis dan edukatif agar setiap warga paham bahwa memilah sampah adalah bentuk rasa cinta kita pada Makassar,” tegas Helmy.
Pembenahan Internal dan Sinergi Total
Perubahan ini tidak hanya menuntut peran warga, tetapi juga komitmen penuh dari tubuh pemerintah sendiri. Berdasarkan Instruksi Wali Kota Makassar Nomor 3 Tahun 2026, seluruh lini pemerintahan mulai dari tingkat dinas, kecamatan, hingga kelurahan—wajib menjadi teladan dalam memilah dan mengolah sampah.
Guna memastikan kelancaran di lapangan, Pemkot Makassar bergerak cepat membenahkan infrastruktur pendukung:
Edukasi Petugas: Memastikan seluruh garda terdepan, dari camat hingga petugas kebersihan, memiliki pemahaman yang presisi mengenai tata cara pengangkutan sampah terpilah.
Peremajaan Armada: Melakukan perbaikan serta pengadaan unit baru untuk armada pengangkut sampah (motor pengangkut dan truk) yang sebelumnya rusak.
Dukungan Anggaran: Mengoptimalkan alokasi dana kelurahan dan DLH untuk penyediaan sarana pendukung.
Gerakan Bersama dari Rumah
Kesuksesan besar selalu dimulai dari langkah kecil di dalam rumah. Pihak Pemkot mengajak masyarakat untuk mengambil peran aktif tanpa perlu menunggu fasilitas mewah.
”Memilah sampah tidak harus mahal. Warga tidak perlu membeli tempat sampah baru yang mahal cukup manfaatkan wadah atau ember bekas yang masih layak di rumah. Kesadaran untuk memisahkan organik dan anorganik dari dapur kita sendiri adalah modal terbesar bagi keberhasilan kota ini,” pungkas Helmy.
Tiga bulan ke depan menjadi ujian kedewasaan warga Makassar. Sebuah momentum untuk membuktikan bahwa perubahan menuju kota yang resik, sehat, dan bermartabat bisa terwujud lewat aksi nyata dari setiap sudut rumah tangga. (qas)















