Menghibahkan Diri untuk Rumah Bersama, Asa Baru Haji Badris Salam Menatap Masa Depan REI Sulsel

Di hadapan ratusan pengembang—dari pesisir Kepulauan Selayar hingga pelosok Luwu Raya—Haji Badris Salam (HBS) melangkah mantap. Bukan sekadar mengejar tampuk kepemimpinan DPD REI Sulawesi Selatan periode 2026–2029, ia hadir membawa sebuah narasi perjuangan: merajut kembali rasa kekeluargaan dalam satu rumah yang bernurani.

NETSULSEL | Makassar, Di tengah dinamisnya industri properti Sulawesi Selatan, sebuah komitmen hangat mengudara dari panggung deklarasi. Di hadapan ratusan pengembang dari pesisir Kepulauan Selayar hingga pelosok Luwu Raya Haji Badris Salam (HBS) melangkah mantap. Bukan sekadar mengejar tampuk kepemimpinan DPD REI Sulawesi Selatan periode 2026–2029, ia hadir membawa sebuah narasi perjuangan: merajut kembali rasa kekeluargaan dalam satu rumah yang bernurani.

​Suasana ruangan terasa bergetar ketika HBS melemparkan sebuah pertanyaan mendasar yang memantik simpati para hadirin.

​“Apakah kita akan membiarkan setiap anggota berjuang sendiri-sendiri di tengah tantangan yang makin kompleks?” tanyanya lantang, disambut keheningan sesaat sebelum dijawabnya sendiri dengan penuh keyakinan, “Jawabannya adalah: TIDAK.”

​Bagi HBS, bisnis perumahan tak pernah sekadar kalkulasi angka, keuntungan, atau megahnya batu bata yang tersusun. Di balik setiap pondasi bangunan yang berdiri, ada keringat pengembang kecil yang berjuang dengan perizinan, ada asa keluarga berpenghasilan rendah yang mendambakan atap untuk berteduh, serta ada tanggung jawab moral untuk menghadirkan hunian yang bermartabat.

​Membawa visi besar “Mewujudkan REI Sulawesi Selatan yang Solid, Inklusif, Bernurani, dan Sejahtera”, HBS menegaskan komitmennya untuk meruntuhkan sekat-sekat perbedaan. Menurutnya, kejayaan organisasi tak boleh hanya dinikmati segelintir pemain besar. Pengembang rumah subsidi, pengusaha kelas menengah, hingga pelaku industri kecil harus berdiri di atas landasan kesetaraan yang sama.

​Keberanian dan nilai juang HBS tertuang dalam 8 Pilar Misi Strategis yang ia tawarkan, mulai dari pengawalan Program Nasional 3 Juta Rumah, advokasi regulasi perbankan dan hukum, sinkronisasi aturan daerah, hingga pemberdayaan generasi muda serta kemitraan proaktif dengan sektor UMKM.

​Namun, di atas semua rancangan program tersebut, sentuhan humanis terasa paling kental ketika HBS mengungkapkan ketulusan niatnya untuk memimpin. Dengan kerendahan hati, ia menegaskan bahwa langkah ini adalah pengabdian tanpa batas.

​“Perjuangan ini bukan tentang diri saya pribadi, ini tentang masa depan rumah besar kita. Saya siap menghibahkan diri saya untuk membesarkan REI Sulawesi Selatan,” tuturnya penuh haru, yang disambut tepuk tangan riuh para hadirin.

​Ia menyadari penuh bahwa tantangan ke depan tidak bisa diselesaikan oleh satu orang saja. Dirinya membutuhkan energi para pengembang muda, keutuhan gerak bersama, dan yang paling utama, nilai spiritual yang mendasari setiap perjuangan hidupnya.

​Di penghujung narasi perjuangannya, HBS menyisipkan pesan mendalam yang menyentuh sanubari setiap pimpinan dan pengusaha yang hadir sebuah pengingat bahwasanya sejauh mana pun seorang manusia melangkah dan berjuang, ada ikhtiar bathin yang menjadi kuncinya.

​“Semua ini tidak akan berhasil tanpa kerja keras dan perjuangan. Dan kita tidak akan pernah berhasil tanpa DOA kedua orang tua kita,” pungkasnya penuh ketulusan, menutup deklarasi dengan kehangatan yang menguatkan semangat persaudaraan keluarga besar REI Sulawesi Selatan.(ita)