
NETSULSEL | Bone, Asap hitam yang sempat membumbung tinggi di langit Desa Sanrangeng, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, kini telah menghilang. Bara api yang melalap pemukiman warga pun sudah sepenuhnya padam. Namun, di antara sisa-sisa kayu yang hangus dan puing bangunan yang meranggas, luka mendalam masih begitu membekas di benak para korban.
Peristiwa kebakaran hebat yang terjadi pada Senin siang, (14/9/26) lalu, berlangsung begitu cepat. Tiupan angin kencang disertai material bangunan rumah panggung yang mayoritas terbuat dari kayu membuat jago merah dengan leluasa menjalar dari satu rumah ke rumah lainnya. Dalam sekejap, musibah tersebut menghanguskan dan merusak sedikitnya 13 unit rumah warga, memaksa puluhan jiwa kehilangan tempat bernaung dan harta benda yang dikumpulkan bertahun-tahun.
Setelah api padam, perjuangan sesungguhnya bagi para korban baru saja dimulai. Di tengah keputusasaan saat menatap sisa-sisa kehidupan yang habis terbakar, uluran tangan kemanusiaan mulai berdatangan menyapa mereka pada Selasa, (15/9/26).
Forum Bersama Anti Narkoba (FORBES) bergerak cepat menggalang kepedulian bersama Assitobonengeng, Jamaah Kendari, dan Jamaah Sinjai. Dari aksi solidaritas kolektif tersebut, terhimpun dana dan bantuan logistik yang langsung diantarkan ke titik lokasi bencana.
Ketua FORBES Anti Narkoba, Andi Singkeru Rukka, turun langsung menyusuri lokasi bencana bersama rombongan. Kehadiran mereka bukan sekadar menyalurkan bantuan fisik, melainkan membawa pesan moral yang mendalam: dalam situasi seberat apa pun, warga Desa Sanrangeng tidak dibiarkan berjuang sendirian.
”Kami berharap bantuan ini dapat sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak kebakaran. Ini merupakan bentuk kepedulian dan solidaritas FORBES kepada masyarakat,” tutur Andi Singkeru Rukka saat menyerahkan bantuan secara simbolis.
Bagi FORBES, komitmen kemanusiaan tidak boleh terkotak-kotak. Meski fokus utama lembaga bergerak pada pencegahan penyalahgunaan narkoba, kepekaan terhadap musibah sosial tetap menjadi prioritas panggilan jiwa.
Musibah memang sanggup melalap fisik rumah dan menghanguskan harta benda hingga tak bersisa. Namun, bencana tidak akan pernah mampu memadamkan rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong. Di Sanrangeng, di balik duka yang menyelimuti, ada harapan baru yang pelan-pelan tumbuh dari tangan-tangan yang peduli.
Rincian Bantuan Kemanusiaan yang Disalurkan:
Penyaluran bantuan dibagi menjadi 13 paket utama yang disesuaikan dengan jumlah KK terdampak, mencakup:
Logistik Pangan: Beras 5 kg, telur 2 rak, dan mi instan 2 dus untuk setiap paket.
Bantuan Tunai: Uang tunai sebesar Rp200.000 per paket (total bantuan dana tergalang mencapai lebih dari Rp7 juta).
Sandang & Pakaian Layak Pakai: Sarung sebanyak 1 lusin, pakaian laki-laki campuran, serta berbagai pakaian layak pakai untuk kebutuhan harian warga. (ita)










