NETSULSEL | Jeneponto, Perpaduan antara nafsu gelap narkoba, kehaluan judi online (judol), dan tabiat panjang tangan memang ramuan paling ampuh untuk mengantar seseorang langsung berurusan dengan peluru petugas. Inilah kisah tragis bernuansa konyol dari Muh. Nur Haikal (19), seorang oknum mahasiswa di Jeneponto yang resmi menyandang gelar “Maling Paling Konsisten Kena Apes”.
Bagaimana tidak? Pemuda yang sejatinya punya masa depan cerah ini malah memilih jalur spesialis rumah kosong. Modusnya sungguh terencana tapi minus akhlak: Haikal memantau tetangganya, Ibu Darmawati yang merupakan seorang guru, ketika beliau pergi ke masjid untuk salat Subuh pada Kamis (13/8/2026). Saat sang guru sibuk beribadah mengumpulkan pahala, Haikal justru sibuk mengumpulkan dosa dengan membobol rumahnya.
Serial Pembobolan 4 Kali demi Slot dan Serbuk Haram
Tak tanggung-tanggung, dari dalam rumah korban, Haikal berhasil menggasak 3 buah cincin emas, 1 gelang emas, uang tunai Rp7 juta, hingga 80 lembar sarung. Total kerugian korban mencapai Rp32 juta!
Saat diinterogasi tim URC Pegasus Sat Reskrim Polres Jeneponto pimpinan Aiptu Abd. Rasyad pada Selasa (18/8/2026) malam, terungkaplah fakta yang bikin mengelus dada. Haikal mengaku sudah 4 kali berturut-turut mencuri di lokasi yang sama.
Kasat Reskrim Polres Jeneponto, AKP Nurman, S.H., M.H., membenarkan motif nekat pelaku yang mengombinasikan tindak pidana demi memuaskan kebiasaan buruknya tersebut.
”Dari hasil interogasi, terduga pelaku mengaku hasil dari penjualan barang curian berupa perhiasan emas dan barang lainnya itu dipergunakan untuk membeli narkotika jenis sabu dan bermain judi online. Pelaku ini juga merupakan seorang residivis yang sebelumnya pernah terlibat kasus pembobolan toko,” ungkap AKP Nurman.
Aksi “Izin Hajat Kecil” yang Berujung Dor di Betis
Puncak kekonyolan aksi Haikal terjadi saat pengembangan kasus pada Rabu (19/8/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WITA. Merasa punya ide genius bak di film aksi, Haikal berpura-pura mules dan meminta izin ke petugas untuk buang air kecil. Begitu kuncian mengendur, ia mendadak mendorong polisi lalu nekat kabur di kegelapan malam.
”Saat dilakukan pengembangan untuk mencari barang bukti lainnya, pelaku meminta izin buang air kecil. Namun tiba-tiba pelaku memberontak, mendorong anggota, dan berusaha melarikan diri. Tembakan peringatan sebanyak tiga kali tidak diindahkan, sehingga petugas memberikan tindakan tegas dan terukur di bagian betis kanan pelaku,” tegas Kasat Reskrim AKP Nurman.
Lari Haikal nyatanya tak secepat scatter judol yang ia impikan. Setelah dihantam timah panas, Haikal pun meringis kesakitan, batal kabur, dan harus berobat gratis ke RSUD Lanto Dg Pasewang sebelum akhirnya dijebloskan ke sel tahanan Mapolres Jeneponto untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai Pasal 476 KUHPidana.
Pojok Hukum Ala NETSULSEL, Pelajaran Hidup dari Kasus Haikal:
Dosa Berkelanjutan Itu Rugi: Mencuri emas demi judol dan narkoba itu ibarat membeli tiket neraka jalur VIP pakai duit haram. Slot tidak bikin kaya, narkoba tidak bikin keren, yang ada malah bikin betis bolong kena dor polisi.
Jangan Hobi Spam TKP: Kalau sudah mencuri sekali di rumah tetangga, jangan diulangi sampai 4 kali. Polisi itu punya catatan penyelidikan, bukan penonton setia yang makin mengagumi konsistensi aksi jahatmu.
Modus Kebelet Pipis Sudah Kedaluwarsa: Trik “Pak, mau kencing” lalu mendorong petugas itu hanya berhasil di kartun. Di dunia nyata, polisi punya refleks cepat dan senjata api.
Beli Sarung Itu Dipakai Salat, Bukan Dimaling: Jika butuh sarung sampai 80 lembar, usahakan beli pakai uang halal. Maling sarung orang yang sedang salat Subuh adalah tingkatan kombo dosa paling tidak berestetika! (syam)













