Panen Support dan Doa Kemenangan, H Badris Salam Buktikan Perkuat Kolaborasi Strategis Dengan BPN Gowa.

Badris kembali menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai kandidat, melainkan sebagai seorang problem solver sejati. Duduk berhadapan dengan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Gowa, Aksara Alif Raja, kehangatan yang terpancar bukanlah gestur yang dibuat-buat untuk pencitraan sesaat.

NETSULSEL | Mkassar, Di sudut temaram sebuah kafe di kawasan Panakkukang, Makassar, cangkir-cangkir kopi menjadi saksi bisu dari sebuah tarian kepemimpinan yang matang. Di saat bursa pemilihan Ketua Real Estate Indonesia (REI) Sulawesi Selatan kerap diwarnai riuh retorika dan obral janji manis, Haji Badris Salam memilih jalan yang berbeda. Ia melangkah tenang, memadukan keteguhan karakter dengan kerja nyata yang mengakar.

​Siang itu, Badris kembali menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai kandidat, melainkan sebagai seorang problem solver sejati. Duduk berhadapan dengan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Gowa, Aksara Alif Raja, kehangatan yang terpancar bukanlah gestur yang dibuat-buat untuk pencitraan sesaat.

​”Beliau bukan orang baru bagi saya,” tutur Alif Raja dengan nada penuh keakraban. Jauh sebelum mengemban amanah sebagai orang nomor satu di BPN Gowa, Alif telah mengenal betul tabiat dan integritas seorang Haji Badris Salam. Karakter Badris yang konsisten, membumi, dan selalu mengedepankan solusi menjadikan hubungan kelembagaan itu tumbuh organik menjadi sinergi yang kokoh.

​Bagi Badris, kepastian hukum dan legalitas pertanahan adalah napas hidup para pengembang. Ia menolak menjadikan urusan krusial ini sebagai komoditas kampanye semata. “Bagi kami, kolaborasi dengan BPN adalah kerja harian yang substansial. Developer butuh kepastian hukum yang cepat dan efisien, tanpa birokrasi yang berbelit-belit,” ujar Badris dengan tatapan mantap.

​Di balik kesederhanaan tutur katanya, mengalir dukungan yang terus menguat dari berbagai penjuru. Gelombang kepercayaan dari para pengembang seolah menjadi jawaban atas rekam jejaknya yang tak pernah jarak dari persoalan lapangan. Dari meja-meja diskusi kecil hingga ruang-ruang kerja para stakeholder, bisik-bisik harapan kini menjelma menjadi doa-doa yang diucapkan secara tulus: sebuah doa agar langkah Haji Badris Salam dilapangkan menuju kursi ketua DPD REI Sulsel, membawa era baru yang mandiri, berdaya saing, dan berkeadilan bagi seluruh anggota.

​Langkah taktis di Panakkukang hari itu menegaskan satu hal: kepemimpinan sejati tidak lahir dari panggung karpet merah, melainkan dari rekam jejak, kerendahan hati, serta kemampuan menyatukan rantai ekosistem demi kemaslahatan bersama.(ita)