BMKG Ungkap Kebakaran Hutan Lokal di Sulsel Ikut Sumbang Asap Pekat di Makassar, Ilusi Mendung Mengandung Polutan Berbahaya.

Fenomena kabut pekat yang mengepung Kota Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan dalam beberapa waktu terakhir kerap diasosiasikan sebagai kiriman asap dari luar pulau. Namun, fakta ilmiah membeberkan realitas lain yang tidak boleh diabaikan.

NETSULSEL | Makassar, Fenomena kabut pekat yang mengepung Kota Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan dalam beberapa waktu terakhir kerap diasosiasikan sebagai kiriman asap dari luar pulau. Namun, fakta ilmiah membeberkan realitas lain yang tidak boleh diabaikan.

​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa buruknya kualitas udara hingga menembus kategori tidak sehat di Sulsel juga disumbang oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lokal yang terjadi di dalam wilayah Sulawesi Selatan sendiri.

​Jejak Karhutla Lokal dan Sumber Polutan
​Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yuda, memaparkan bahwa akumulasi polutan di atmosfer Sulsel merupakan hasil kombinasi antara pergerakan partikel asap lintas wilayah—termasuk dari Papua bagian selatan—serta titik-titik panas (hotspot) dari kebakaran lokal yang aktif di beberapa kabupaten di Sulsel.

​Sejumlah daerah di Sulsel tercatat mengalami insiden kebakaran lahan, di antaranya meliputi Kabupaten Bone, Soppeng, Pangkep, Bantaeng, Enrekang, Toraja Utara, hingga Luwu Utara.

​Analisis BMKG menunjukkan bahwa kombinasi cuaca yang cerah namun minim curah hujan membuat kondisi di lapangan sangat kering, sehingga memicu api cepat merambat dan sulit dipadamkan. Akibatnya, asap pekat dari pembakaran lokal ini terus diproduksi dan, didorong oleh pergerakan angin, ikut mencemari udara perkotaan termasuk Kota Makassar.

​”Sumber polutan ini berasal dari kombinasi kebakaran lokal dan kiriman asap antardaerah. Perubahan arah angin serta kondisi atmosfer sangat memengaruhi penyebaran polutan, di mana konsentrasi PM2,5 di sejumlah titik tercatat masuk dalam kategori tidak sehat akibat akumulasi asap tersebut,” ujar Rizky Yuda, Prakirawan BMKG Wilayah IV Makassar.

​Ilusi Cuaca Panas: Bukan Mendung, Melainkan Selimut Asap Berbahaya
​Ada fenomena unik yang dirasakan masyarakat selama kepungan kabut asap ini berlangsung. Suhu udara di luar ruangan terkadang tidak terasa menyengat atau membakar kulit seperti hari-hari cerah biasanya.

​Menanggapi hal tersebut, pihak BMKG memberikan penjelasan penting. Kondisi meredupnya teriknya matahari bukan disebabkan oleh datangnya awan mendung pembawa hujan, melainkan terhalang oleh partikel polutan dan kabut asap pekat yang melayang di lapisan atmosfer.

​Partikel halus atau Particulate Matter (PM2,5) dari hasil pembakaran tersebut membentuk lapisan tebal yang membiaskan sinar matahari. Kondisi ini menciptakan ilusi cuaca yang tampak teduh atau kelabu, namun di balik itu menyimpan ancaman bahaya bagi kesehatan sistem pernapasan karena kualitas udara berada di level yang tidak sehat.

​Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama di luar ruangan, serta mengenakan masker pelindung mengingat ancaman polutan berbahaya ini bersumber dari akumulasi karhutla regional maupun lokal yang masih dalam pantauan ketat pihak berwenang. (kiki)

​