
NETSULSEL | Makassar, Di Kota Daeng, tempat angin Mamiri membelai ingatan dan merajut kisah, waktu seolah melambat di sudut Kedai Tujuh Belas, jalan Anggrek Raya Selasa sore itu. Senja merayap perlahan ketika dua insan, yang dipersatukan oleh takdir jalan pengabdian dan hangatnya nilai persahabatan, duduk bersama melingkari satu meja.
Tidak ada sekat kepangkatan, tidak ada riak formalitas. Dr. Sila Haholongan Pulungan, SH,MH yang kini mengemban amanah baru sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Sesjamdatun) Kejaksaan Agung RI datang sengaja melangkahkan kaki. Ia hadir bukan sekadar sebagai pejabat yang hendak beranjak, melainkan sebagai seorang sahabat yang tahu betul indahnya menjaga ikatan silaturahmi. Sebelum kepakan sayap pesawat membawanya melintasi belahan langit menuju Ibu Kota, ia memilih meluangkan jeda untuk berpamitan dan menyapa kawan lamanya.
”Saya datang lebih awal untuk berpamitan dan menyeruput kopi bersama. Sebab jika tak hari ini, ruang dan waktu kerap kali lihai memisahkan kita,” ujarnya ramah.
Pertemuan yang bermula sejak pukul lima sore itu bergulir begitu hangat hingga malam makin larut. Dalam perbincangan yang mengalir, kenangan-kenangan lama menyeruak bagai benang emas yang merajut nostalgia. Di balik seragam dan ketegasan pengabdian hukumnya, Dr. Sila menyimpan ikatan emosional yang amat mendalam dengan tanah Makassar.
Langkah masa kecilnya pernah menjejak di ruang-ruang kelas SD Tello Baru pada medio 1974, saat sang ayah mendedikasikan diri di bumi Sulawesi Selatan. Jejak-jejak sederhana itu rumah dinas tua, halaman sekolah yang riuh, hingga aroma renyahnya jalangkote hangat berpadu gurih pedas sambal botolan di pagi hari menjadi potret humanis yang tak pernah pudar oleh waktu. Makassar baginya bukan sekadar ruang singgah dalam peta karier, melainkan bagian dari jiwa dan jejak pembentuk karakter hidupnya.
Di batas alur perpisahan tersebut, terselip sebuah refleksi mendalam tentang makna kepemimpinan dan hubungan antarmanusia. Pengabdian sejati, baginya, bukanlah tentang seberapa tinggi tempat berdiri, melainkan seberapa luas empati yang ditanamkan dalam dada.
”Hadirkan kelembutan di mana pun dalam setiap tugas yang diemban,” ucapnya perlahan, menyiratkan pesan bersahaja bahwa dalam ketegasan penegakan hukum, kehangatan rasa dan nilai kemanusiaan adalah kompas utama yang tak boleh tanggal.
Djusman AR, salah satu aktivis anti korupsi dikota Makassar yang menjadi sahabat dekat dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel ini, berharap agar Beliau senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan kemudahan dalam mengemban tugas serta terus memberikan kontribusi terbaik bagi penegakan hukum di Indonesia.
“Kami mengucapkan selamat kepada Bapak Dr. Sila H Pulungan, S.H., M.Hum atas amanah barunya sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Bidang Perdata dan Tata Usaha Negara (Sesjamdatun) Kejaksaan Agung RI, Semoga senantiasa diberikan perlindungan Tuhan yang Maha Esa, keberkahan, kesehatan, dan kesuksesan dalam menjalankan tugas pengabdian untuk bangsa dan negara,” ujar Djusman AR.
Persahabatan sejati tidak pernah diukur dari seberapa sering bertatap muka, melainkan dari kedalaman rasa saling menghargai. Di akhir petang itu, doa-doa kebaikan saling bertaut. Sebuah perpisahan tempat tugas bukanlah akhir dari sebuah kisah, melainkan babak baru dari rajutan tali silaturahmi yang tak akan pernah lekang oleh jarak dan waktu. (ita)









