
NETSULSEL | Bone, Di tengah deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk aktivitas ekonomi yang kian bergerak cepat di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, ada ruang-ruang yang seolah sengaja dilupakan oleh waktu. Watampone kota yang dikenal erat dengan jejak sejarah kebesarannya ternyata masih menyimpan oase hijau dan sudut-sudut urban tersembunyi (hidden gem) yang belum tersentuh oleh gemerlap pariwisata arus utama.
Bagi warga lokal, kawasan seperti tepi alur sungai tua yang membelah pinggiran kota atau lorong-lorong hijau di balik permukiman padat bukanlah sekadar titik di peta. Ini adalah ruang bernapas. Tempat di mana tradisi Bugis yang kental bertaut lembut dengan ketenangan alam yang belum terpoles komersialisasi.
Jejak Hijau di Antara Batu Cadas dan Dinding Beton
Berbeda dengan destinasi wisata populer Bone seperti Tanjung Pallette atau Gua Mampu yang kerap disesaki wisatawan saat akhir pekan, lokasi-lokasi urban sanctuary di sekitar kawasan perkotaan ini menyajikan ritme yang jauh berbeda.
Saat melangkah ke area semak rindang dan bantaran air alami yang tersembunyi di perbatasan distrik kota, hiruk-pikuk klakson mendadak berganti menjadi simfoni jangkrik dan gemericik air. Dinding-dinding batu alam yang tertutup lumut tipis serta rimbunnya pohon bambu lokal menghadirkan lanskap alami yang autentik menjadi kontras yang memikat di tengah pesatnya pembangunan fisik Bone.

Kisah dari Pinggiran, Manusia dan Ruang Berteduh
Keindahan tempat ini tak hanya terletak pada visualnya, melainkan pada kehangatan interaksi manusia di sekitarnya. Nappa (54), seorang warga asli yang kerap menghabiskan sore di tepi alur sungai tersembunyi ini, membagikan kisahnya sambil memperbaiki jala ikannya.
”Orang-orang sibuk cari tempat liburan jauh-jauh keluar kota, padahal di belakang rumah kita sendiri ada tempat sejernih ini. Di sini kami duduk cerita, lepas penat habis kerja. Tempat ini tenang karena belum banyak orang luar yang tahu.”

Bagi Nappa dan anak-anak sekitar yang kerap melompat bebas ke dalam alur air jernih saat petang tiba, lokasi ini adalah lapangan bermain yang jujur. Tak ada tiket masuk, tak ada fasilitas modern yang mewah, hanya ada hubungan erat antara komunitas lokal dan lingkungan tempat mereka tumbuh.
Menjaga Keaslian di Tengah Arus Modernisasi
Potensi lokasi wisata urban tersembunyi di Bone ini menghadirkan dilema yang manis sekaligus getir. Di satu sisi, keasrian dan ketenangan yang ditawarkannya menjadi daya tarik luar biasa bagi para pencinta jalan-jalan alternatif (urban explorer) yang mencari kesederhanaan. Namun di sisi lain, kepopuleran sering kali membawa risiko perubahan lanskap dan sampah.
Pemerintah daerah dan komunitas pemuda lokal kini mulai melirik potensi ruang-ruang hijau tersembunyi ini. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana merawat dan memperkenalkan keindahan urban Bone yang belum terjamah ini tanpa merusak jiwa, ketenangan, serta ekosistem sosial warga yang telah lama menjaganya.
Di balik wajah Watampone yang terus bersolek menjadi kota modern, sudut-sudut teduh ini membuktikan satu hal: ketenangan sejati kadang tak perlu dicari jauh ke puncak gunung atau pulau terpencil. Ia ada di dekat kita, bersembunyi dengan tenang di jantung Kabupaten Bone.(dmz)




