NETSULSEL | Jakarta, Kejaksaan Agung (Kejagung) tidak akan setengah-setengah mengusut skandal korupsi tata kelola program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menyusul terungkapnya dugaan mark-up jumbo, penyidik kini memperluas radar investigasi ke seluruh pengadaan barang di Badan Gizi Nasional (BGN).
Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Febrie Adriansyah, menegaskan pihaknya menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) untuk melakukan audit menyeluruh. Tidak hanya fokus pada motor listrik, sepatu, tablet, atau televisi yang kini jadi sorotan, penyidik akan menelisik kewajaran di balik setiap kontrak pengadaan.
“Semua pengadaan kita teliti. Kita kerja sama dengan BPKP untuk cek kewajarannya. Semuanya kita buka,” tegas Febrie di Jakarta, beberrapa waktu kemarin.
Bersih-bersih Demi Program Strategis
Febrie menambahkan, langkah agresif ini diambil bukan sekadar menghukum pelaku, melainkan memastikan program prioritas MBG kembali ke rel aslinya. Ia ingin memastikan bahwa suplai logistik seperti sayuran dan protein benar-benar berasal dari sumber lokal yang memberdayakan masyarakat, bukan sekadar ajang bancakan vendor.
“Kita pastikan tujuan baik MBG ini berhasil. Kita proses, kita buka, dan kita dorong agar tidak ada lagi yang main-main dengan program ini,” imbuhnya.
Modus Orang Dalam dan Yayasan Fiktif
Hingga saat ini, Kejagung telah menetapkan lima tersangka utama:
Dadan Hindayana (Eks Kepala BGN)
Sonny Sonjaya (Eks Wakil Kepala BGN)
Lodewyk Pusung (Eks Wakil Kepala BGN)
Asep Yusuf Somantri (Kaki tangan Sony)
Andri Mulyono (Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal)
Penyidik menemukan pola sistemik dalam kasus ini. Seharusnya, operasional MBG dijalankan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terafiliasi dengan sekolah penerima manfaat. Namun, faktanya, penunjukan SPPG justeru disetir oleh segelintir petinggi BGN.
Ironisnya, banyak yayasan yang ditunjuk sebagai mitra SPPG tidak memenuhi kualifikasi alias asal tunjuk.
Di atas kertas, kontrak pengadaan barang melonjak drastis, mencakup:
21.801 unit motor listrik (Rp1,03 triliun)
32.000 pasang sepatu
31.994 unit tablet
5.400 unit televisi 75 inch
Dengan audit total yang kini tengah berlangsung, publik menunggu apakah akan ada tersangka baru atau aliran dana lain yang terungkap ke permukaan. Kejagung berkomitmen untuk membongkar tuntas pusaran korupsi ini agar anggaran negara tidak lagi bocor di tengah jalan. (ita)











