NETSULSEL | Nagoya-Japan, Kilatan cahaya kamera dan gemuruh tepuk tangan di arena angkat besi Asian Games 2026 menjadi saksi bisu kehebatan Rahmat Erwin Abdullah. Lifter papan atas dunia tersebut sukses menyumbangkan medali emas kedua bagi kontingen Indonesia setelah menundukkan lawan-lawannya dengan total angkatan yang mendominasi kelasnya. Namun, di balik senyum kemenangan dan kibaran Merah Putih di podium tertinggi, tersimpan narasi pahit tentang hilangnya permata olahraga nasional dari bumi Sulawesi Selatan.
Rahmat, pria kelahiran Makassar yang tumbuh dan menempa keringatnya di tanah Sulawesi Selatan, tampil luar biasa percaya diri sejak angkatan snatch hingga clean and jerk. Setiap tarikan bebannya bukan sekadar menunjukkan kekuatan fisik, melainkan pembuktian atas dedikasi dan mental baja seorang juara dunia.
Tetapi kejayaan ini membawa kepedihan tersendiri bagi pecinta olahraga di Sulawesi Selatan. Pasalnya, medali emas yang kini mengharumkan nama bangsa itu diraih Rahmat bukan lagi atas nama Provinsi Sulawesi Selatan. Sang atlet legendaris telah resmi berpindah bendera dan membela provinsi lain dalam ajang olahraga nasional—sebuah keputusan krusial yang terpaksa diambil akibat minimnya perhatian dan apresiasi dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terhadap pembinaan atlet berprestasi.
Dari Makassar Mempersembahkan Emas, Terbuang Oleh Rumah Sendiri
Kepindahan Rahmat ke provinsi lain sebelumnya sempat menjadi sorotan tajam. Sebagai salah satu lifter terbaik yang pernah dilahirkan Indonesia dari bumi Celebes, Rahmat dan tim pelatihnya berulang kali dihadapkan pada realita minimnya dukungan fasilitas, anggaran latihan, serta kepastian masa depan dari Pemprov Sulsel. Di saat daerah lain berani memberikan ruang, fasilitas modern, serta jaminan kesejahteraan yang layak bagi aset bangsa, daerah asalnya justru terkesan abai.
Prestasi emas Rahmat di Asian Games 2026 ini seolah menjadi tamparan keras sekaligus cermin telanjang bagi tata kelola pembinaan olahraga di Sulawesi Selatan. Bagaimana mungkin seorang lifter berkelas dunia, yang mengasah bakatnya di Makassar, harus menyeberang membela daerah lain demi mendapatkan hak dan apresiasi yang layak sebagai seorang profesional?
”Kemenangan ini untuk Indonesia,” ujar Rahmat usai pengalungan medali. Meski tetap membawa kebanggaan sebagai putra daerah berdarah Makassar, fakta bahwa kontribusi serta pembinaannya kini dinaungi oleh provinsi lain adalah catatan kelam yang tak bisa ditutupi.
Emas kedua bagi Indonesia di Asian Games 2026 ini membuktikan bahwa kualitas Rahmat Erwin Abdullah berada di level puncak dunia. Namun bagi Sulawesi Selatan, setiap kilogram beban yang diangkat Rahmat di panggung dunia kini menjadi pengingat atas mahalnya harga sebuah pengabaian terhadap talenta terbaik daerah. (ita)





