Gen Z Kehilangan Kesabaran. Dunia Bergerak, Kekuasaan Jangan Tuli

sketsa ilustrasi #NarasiAno
By : #NarasAno

Gen Z telah menjadi salah satu penggerak utama gelombang protes di berbagai negara. Mereka menggunakan ruang digital untuk membangun konsolidasi dan jalanan sebagai tempat menyampaikan tuntutan. Kemarahan terhadap ketidakadilan tidak lagi berhenti di layar telepon. Ia bergerak menjadi aksi nyata dan melintasi batas negara.

Sepekan lalu, saya yang disebut sebagai generasi X ikut mencicipi gerakan anak-anak Gen Z ini. Saya memulainya dari tepi danau Universitas Hasanuddin. Saat itu, kelompok musikalisasi SPASI Fakultas Ilmu Budaya Unhas meluncurkan album mereka. “Air Mata Ibu Pertiwi” satu diantara lagu mereka. Tak ketinggalan, seluruh personelnya mengacungkan “salam tiga jari”.

Selama sepekan, saya turut mengambil bagian dalam aksi tersebut, termasuk meramu narasi pendek. Sebuah pengalaman kecil, tetapi bagi saya menjadi kesempatan untuk berbicara tentang arti kemerdekaan berpikir dan kejujuran terhadap diri sendiri.

Pembaca #NarasiAno, sembari menyaksikan film “Laut Bercerita”mari kita melihat bagaimana gelora Gen Z bergerak di berbagai belahan dunia hingga akhirnya tiba di tanah air.

Kita mulai dari Bangladesh pada 2024. Gerakan mahasiswa bermula dari protes terhadap sistem kuota pegawai negeri sipil yang dianggap diskriminatif. Represi aparat kemudian memperluas tuntutan menjadi gerakan antipemerintah. Mobilisasi melalui media sosial dan jaringan mahasiswa berkembang menjadi tekanan besar yang akhirnya memaksa Perdana Menteri Sheikh Hasina meninggalkan kekuasaan setelah 15 tahun memerintah.

Setahun kemudian, Nepal mengalami gelombang protes Gen Z. Gerakan yang dikenal melalui kampanye Nepo Kids muncul setelah anak-anak pejabat memamerkan gaya hidup mewah di tengah persoalan pengangguran dan ketimpangan. Media sosial, termasuk Discord, menjadi ruang koordinasi. Kemarahan semakin besar setelah pemerintah membatasi akses sejumlah platform digital. Protes berujung pada pengunduran diri Perdana Menteri K.P. Sharma Oli.

Perlawanan Gen Z tidak hanya terjadi di negara-negara Asia yang menghadapi persoalan politik dan ekonomi. Di Eropa, gelombang protes juga muncul dengan tuntutan yang tidak jauh berbeda. Anak-anak muda mempertanyakan sistem yang mereka anggap tidak memberikan kepastian masa depan, mulai dari biaya hidup, akses pendidikan, harga rumah, hingga lapangan kerja.

Di Jerman, gerakan itu dikenal dengan nama Gen Z Regelt. Pada 31 Oktober 2026, demonstrasi digelar di lebih dari 30 kota, termasuk Berlin, Frankfurt, dan Cologne. Gerakan ini menuntut peningkatan anggaran pendidikan, perhatian terhadap biaya hidup, dan menolak rencana pemberlakuan kembali wajib militer. Menjelang aksi, penyelenggara menyebut lebih dari 160 ribu orang telah mendaftarkan diri untuk ikut serta.

Di Prancis, Gen Z mempersoalkan fasilitas sekolah yang terbengkalai, kekurangan guru, kelas yang terlalu padat, serta meningkatnya biaya hidup. Pada 17 Oktober, jumlah peserta demonstrasi secara nasional diperkirakan mencapai 550 ribu orang menurut otoritas Prancis.

Di Spanyol dan Italia, mahasiswa Gen Z juga menyuarakan persoalan krisis hunian. Di Madrid, Milan, dan Roma, mereka memprotes kenaikan harga sewa rumah dan biaya hidup yang semakin sulit dijangkau oleh anak muda yang bekerja dengan upah terbatas.

Sementara itu, Serbia mencatat perkembangan penting. Setelah hampir dua tahun gerakan protes mahasiswa, gerakan yang sama kemudian masuk ke arena pemilihan umum. Pada pemilu parlemen 25 Oktober 2026, daftar kandidat yang didukung gerakan mahasiswa meraih kemenangan dan mengakhiri dominasi politik Aleksandar Vučić bersama koalisinya.

Mengapa gelora Gen Z seolah bergerak serentak secara global?

Dari sejumlah perkembangan tersebut, saya melihat ada kesamaan keresahan. Salah satunya adalah perasaan Nothing Left to Lose atau tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Gen Z tumbuh di tengah krisis iklim, inflasi, mahalnya biaya pendidikan, dan semakin sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak.

Ketidakpastian masa depan itu memunculkan kecemasan kolektif. Namun, kecemasan tersebut tidak selalu membuat mereka apatis. Sebaliknya, sebagian anak muda memilih turun ke jalan karena merasa tidak cukup hanya menunggu perubahan. Jika masa depan mereka dipengaruhi oleh kebijakan hari ini, mereka merasa perlu ikut menentukan arah perubahan tersebut.

Lalu, mengapa anak muda di Berlin, Paris, Serbia, Italia, Asia, hingga Jakarta bisa merasakan keresahan yang hampir sama? Internet membuat mereka saling mengetahui persoalan yang dihadapi generasi seusia mereka di negara lain. Remaja di Prancis yang mempersoalkan sekolahnya dan mahasiswa di Indonesia yang mengkritik kebijakan pemerintah mungkin menghadapi masalah berbeda, tetapi sama-sama mempertanyakan tata kelola negara dan masa depan mereka.

Bagaimana dengan Indonesia?

Gerakan Gen Z di Indonesia bukan baru dimulai tahun ini. Perjalanannya sudah terlihat sejak 2024 melalui gerakan Peringatan Darurat. Saat DPR membahas revisi UU Pilkada yang memicu kontroversi, mahasiswa dan masyarakat sipil bergerak cepat. Kajian hukum dan informasi mengenai persoalan tersebut menyebar melalui media sosial. Tekanan publik akhirnya membuat DPR membatalkan rencana pengesahan revisi tersebut.

Setelah itu muncul gelombang protes dengan simbol bendera One Piece. Kemarahan anak muda terhadap gaya hidup mewah anggota DPR dan pejabat negara menjadi salah satu pemicunya. Aksi berlangsung di sejumlah kota dan di beberapa tempat berujung bentrokan, pembakaran, serta jatuhnya korban.

Namun, gerakan mahasiswa tidak berhenti di sana. Sejumlah nama kembali muncul dalam ruang kritik publik. Dari Yogyakarta, ada Tiyo Ardianto, mahasiswa Filsafat sekaligus Ketua BEM UGM. Ia membawa kritik melalui pendekatan pemikiran dan argumentasi. Sementara dari Jakarta, Fathimah Azzahra dari BEM UI menyampaikan kritik melalui data dan persoalan kebijakan publik. Aksi ini kemudian ditandai dengan “salam tiga jari”, atau three-finger salute) yang terinspirasi dari film trilogi The Hunger Games, #IndonesiaSadar.

Jika Tiyo banyak menggunakan pendekatan filsafat dalam menyampaikan kritik, Fathimah membawa persoalan ke ruang diskusi dengan pendekatan data dan logika yang lebih terukur. Dalam program ROSI Kompas TV, misalnya, ia mempertanyakan janji penyediaan 19 juta lapangan kerja yang pernah disampaikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia juga menyoroti prioritas anggaran pemerintah dan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis.

Fathimah menggunakan pendekatan yang ia sebut sebagai kritik tanpa kemarahan, berbasis data. Ia mengibaratkan persoalan bangsa seperti penyakit yang harus ditangani dari akar masalahnya, bukan sekadar menghilangkan gejala. Ia juga mempertanyakan mengapa pembangunan infrastruktur pendidikan dan akses sekolah di daerah terpencil tidak mendapat perhatian yang sepadan dengan program-program besar pemerintah.

Dalam perkembangan gerakan mahasiswa 2026, ruang kepemimpinan perempuan juga semakin terlihat. Selain Fathimah Azzahra dari UI, ada Zahra Nazira Firman dari Trisakti dan Naomi Artika dari Universitas Palangka Raya. Mereka menjadi bagian dari suara mahasiswa yang mengangkat persoalan publik, mulai dari krisis lingkungan, kebakaran hutan, hingga menurunnya daya beli masyarakat.

Pembaca #NarasiAno, kita harus memaksa kekuasaan untuk membaca keresahan Gen Z sebagai peringatan, bukan ancaman. Jangan membungkam kritik atau berlindung di balik angka dan data resmi untuk membantah suara mahasiswa. Apalagi membungkam dengan aksi mahasiswa palsu misalnya.  Aksi mahasiswa GenZ merupakan representasi dari persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat. Pemerintah perlu berhenti percaya pada data asal bapak senang yang disampaikan para menterinya, lalu berani melihat kenyataan di lapangan. Sebab, yang dibutuhkan bukan laporan yang menyenangkan penguasa, melainkan kebijakan yang menjawab persoalan rakyat.

Makassar, 1 November 2026