
NETSULSEL | Fakfak, Komoditas pala di Kampung Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, kini mulai melangkah menuju era baru yang jauh lebih bernilai tambah. Lewat inisiatif Tim 15 Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas), masyarakat kawasan transmigrasi ini didorong untuk tidak lagi sekadar menjual pala mentah. Melalui Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Implementasi Agroindustri Pala Terintegrasi” di Kantor Distrik Fakfak Timur pada 6 September 2026, tercipta semangat baru untuk mengolah hasil panen dari hilir ke hulu secara mandiri dan berkelanjutan.
Langkah konkret perubahan ini diawali dengan hadirnya sarana pascapanen berupa alat uji coba pengering pala yang disepakati akan dikelola langsung oleh Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam). Keterlibatan BUMKam dan Koperasi Desa diharapkan mampu memangkas rantai pemasaran yang panjang dan memperkuat posisi tawar petani agar tak melulu bergantung pada pengepul. Dengan sistem pemasaran kolektif yang terorganisasi, nilai ekonomi yang diterima para petani pala lokal dipastikan akan jauh meningkat dari sebelumnya.
Tidak hanya fokus pada daging dan biji pala, program ini juga menyulap limbah cangkang pala yang selama ini terbuang menjadi sumber energi terbarukan. Melalui pendekatan agroindustri terintegrasi, masyarakat diajak mengolah limbah tersebut menjadi briket biomassa dan biochar yang bernilai jual tinggi. Inovasi hijau ini tidak hanya menekan sampah produksi, tetapi juga membuka peluang usaha baru berbasis potensi energi lokal bagi warga Kampung Weri-Saharey.
Dukungan penuh mengalir dari pemerintah setempat atas aksi nyata para mahasiswa Unhas dalam mendampingi warga transmigrasi. Kepala Distrik Fakfak Timur, Gani Samai, menekankan betapa pentingnya kolaborasi dan transparansi antara masyarakat dan tim akademisi demi keberhasilan program ini. “Yang paling penting adalah keterbukaan masyarakat. Sampaikan apa adanya dan sejujur-jujurnya agar program yang dijalankan dapat benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” ungkap Gani.
Kehadiran Tim 15 Ekspedisi Patriot Unhas terbukti menjadi jembatan krusial yang menghubungkan kelompok tani, lembaga kampung, dan pemerintah daerah. Kolaborasi berkelanjutan ini membawa harapan besar agar gagasan agroindustri pala terintegrasi tidak sekadar berhenti di meja diskusi, melainkan betul-betul mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat. Kampung Weri-Saharey pun kini bersiap menjadi simbol kawasan transmigrasi yang maju dan berdaya saing berkat keunggulan potensi lokalnya.(baba)












