Deklarasi Weri-Saharey: Langkah Tim 16 Unhas Rajut Kohesi Sosial dan Ekonomi di Fakfak

Laboratorium SMP Negeri Fakfak Timur menjadi saksi lahirnya momentum bersejarah bagi masyarakat Papua Barat. Tim 16 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) merajut kembali kohesi sosial antara warga lokal dan masyarakat transmigran Nusantara di Kawasan Weri–Saharey. Lewat gelaran Forum Dialog Budaya, sinergi ini dirancang untuk mengubah keberagaman budaya menjadi fondasi kekuatan ekonomi kolaboratif berbasis kemandirian kampung.

NETSULSEL | Makassar, Laboratorium SMP Negeri Fakfak Timur menjadi saksi lahirnya momentum bersejarah bagi masyarakat Papua Barat. Tim 16 Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Hasanuddin (Unhas) merajut kembali kohesi sosial antara warga lokal dan masyarakat transmigran Nusantara di Kawasan Weri–Saharey. Lewat gelaran Forum Dialog Budaya, sinergi ini dirancang untuk mengubah keberagaman budaya menjadi fondasi kekuatan ekonomi kolaboratif berbasis kemandirian kampung.

​Ketua Tim 16 TEP Unhas, Dr. Sawedi Muhammad, S.Sos., M.Sc., menegaskan bahwa pendekatan yang dibawakan tidak sekadar wacana di atas kertas. Pendampingan difokuskan pada praktik langsung melalui pembenahan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam), pelibatan pemuda, hingga penciptaan rantai produksi bersama.

​”Budaya adalah jembatan, bukan batas. Kohesi sosial tidak hanya berarti hidup berdampingan secara damai, tetapi juga kemampuan masyarakat bersatu merencanakan dan menikmati hasil ekonomi bersama,” ujar Sawedi.

​Pengembangan ekonomi kawasan Weri–Saharey dinilai membutuhkan modal sosial yang kuat di samping bantuan fisik. Narasumber ahli, Hariashari Rahim, S.Sos., M.Si., menekankan bahwa keberlanjutan usaha di kawasan transmigrasi sangat bergantung pada rasa saling percaya antarwarga. Keragaman latar belakang justru modal berharga untuk saling melengkapi dari hulu ke hilir.

​Langkah strategis ini disambut hangat oleh DPMK Kabupaten Fakfak. Drs. Hengky Tetimau, M.Si., menyatakan bahwa BUMKam Parim Mimir Saharey dan BUMKam Tunas Harapan Weri diproyeksikan menjadi penghubung utama rantai ekonomi warga. Pemerintah daerah berkomitmen penuh mendampingi tata kelola kelembagaan dan pemanfaatan dana kampung agar hasil komoditas seperti pala, cabai, dan perikanan tidak terbuang sia-sia.

​Dalam forum tersebut, warga memetakan tantangan nyata yang mereka hadapi. Petani Weri dan nelayan Saharey mengungkapkan tingginya biaya logistik perorangan serta minimnya fasilitas pendingin dan penampungan air. Melalui diskusi kelompok, BUMKam disepakati hadir sebagai pengumpul dan pemasar hasil panen agar efisiensi usaha warga meningkat signifikan.

​Semangat perubahan ini juga membakar antusiasme pemuda setempat. Kelompok Pemuda Saharey menyatakan kesiapannya menjadi garda terdepan dalam aktivitas gotong royong, produksi tani, hingga distribusi perikanan. Ke depan, wadah Karang Taruna akan dibentuk resmi agar partisipasi pemuda dalam pembangunan kampung memiliki payung hukum yang kuat.

​Puncak acara ditandai dengan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi Weri–Saharey oleh perwakilan BUMKam, tokoh masyarakat, dan pemuda. Deklarasi ini menjadi pilar komitmen bersama untuk melangkah dari dialog menuju aksi nyata, seperti pelaksanaan panen raya cabai dan pala secara bersama-sama dalam waktu dekat.

​Melalui kolaborasi erat antara warga lokal, transmigran, pemerintah daerah, dan akademisi Unhas, kawasan Weri–Saharey kini memiliki fondasi sosial dan ekonomi yang solid. Langkah nyata ini menjadi bukti bahwa persatuan Nusantara dapat dibangun dari pinggiran melalui penguatan ekonomi kampung yang inklusif dan berkelanjutan.(arie)