
NETSULSEL | Makassar, Semangat kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia di Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) tidak hanya dirayakan secara seremonial, tetapi juga diwujudkan lewat langkah nyata menciptakan ruang belajar yang bebas dari ketakutan. Usai upacara bendera di Kampus 1 Tamalanrea, Makassar, Senin (17/8/2026), seluruh sivitas akademika berkumpul menyatukan suara: menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan kampus.
Kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) ini menjadi momentum krusial bagi pimpinan, dosen, hingga tenaga kependidikan untuk memperkuat benteng perlindungan warga kampus.
Komitmen Bersama dan Perlindungan Menyeluruh
Langkah tegas diawali dengan penandatanganan pakta integritas oleh jajaran pimpinan dan staf. Berdasarkan catatan rentetan kasus di berbagai Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta wilayah Makassar sejak 2018, kekerasan terbukti dapat menimpa siapa saja tanpa memandang almamater, status, maupun waktu.
Direktur PNUP, Prof. Rusdi Nur, S.S.T., M.T., Ph.D., menegaskan komitmen penuh institusi dalam mengawal isu ini.
”Kami mendukung sosialisasi PPKPT terus dilakukan guna menciptakan kampus yang aman bagi seluruh sivitas akademika,” tegas Prof. Rusdi Nur.
Landasan Hukum Baru dan 6 Wajah Kekerasan
Ketua Satgas PPK PNUP, Dr. Andi Musdariah, S.S., M.Hum., menjelaskan bahwa payung hukum perlindungan kini makin diperkuat melalui Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024. Regulasi ini memberikan jaminan perlindungan yang lebih luas dan komprehensif.
Mengacu pada Pasal 7, terdapat 6 wajah kekerasan yang wajib diwaspadai dan diberantas di lingkungan perguruan tinggi:
Kekerasan Fisik
Kekerasan Psikis
Perundungan (Bullying)
Kekerasan Seksual (Pasal 12 Ayat 2 mendefinisikan hingga 26 bentuk spesifik)
Diskriminasi dan Intoleransi
Kebijakan yang Mengandung Kekerasan
Sanksi Tegas Tanpa Kompromi
Guna memberikan efek jera, institusi menyiagakan tiga tingkatan sanksi terukur bagi para pelaku:

Rangkaian sosialisasi PPKPT ini terus berlangsung hingga 20 Agustus 2026 mendatang. Langkah maraton ini diharapkan mampu menyamakan persepsi seluruh warga PNUP, demi melahirkan generasi emas Indonesia di dalam lingkungan kampus yang aman, inklusif, dan humanistis. (qas)










