
NETSULSEL | Makassar, Mimpi untuk mengenyam pendidikan tinggi kini bukan lagi sekadar angan-angan bagi para penyandang disabilitas. Mengukuhkan komitmennya sebagai ruang tumbuh yang memanusiakan setiap talenta bangsa, Universitas Hasanuddin (Unhas) secara resmi menerima 20 mahasiswa baru penyandang disabilitas pada tahun akademik 2026. Langkah inspiratif ini menjadi manifestasi nyata dari penguatan akses pendidikan yang setara dan inklusif, sejalan dengan penegakan Sustainable Development Goals (SDGs) terkait pendidikan berkualitas dan pengurangan kesenjangan.
Para mahasiswa baru ini tersebar di 12 program studi lintas fakultas, mulai dari FISIP, Ekonomi dan Bisnis, Kedokteran, hingga Hukum, serta berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mereka menggenapkan catatan berharga Unhas yang sejak berdirinya Pusat Disabilitas pada 2023 lalu telah secara konsisten menerima total 70 mahasiswa disabilitas. Upaya ini membuktikan bahwa batas fisik maupun mental tak pernah memadamkan hak seseorang untuk merajih cita-cita di universitas berkelas dunia.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan bahwa komitmen penerimaan ini harus berbanding lurus dengan kesiapan ekosistem kampus dalam mendampingi proses belajar mereka.
“Kita membuka akses pendidikan bagi mahasiswa disabilitas, kemudian memastikan proses belajar mereka berlangsung dengan dukungan yang sesuai untuk Unhas sebagai kampus Inklusif,” ujar Prof. JJ saat menyambut mahasiswa baru pada Selasa (11/8/2026).
Transformasi inklusif di Unhas tak sekadar berhenti pada retorika, melainkan diwujudkan dalam pembenahan infrastruktur dan skema pembelajaran adaptif. Kampus kini dilengkapi dengan ramp, toilet aksesibel, area parkir khusus, penanda khusus, serta penyediaan teknologi close caption realtime bagi mahasiswa Tuli. Didukung oleh tiga juru bahasa isyarat dan 10 relawan, Unhas terus membangun lingkungan akademik yang ramah dan saling merangkul.
Prof. JJ menambahkan bahwa konsistensi layanan di tingkat fakultas hingga departemen merupakan kunci utama dalam menjaga keberlanjutan program ini.
“Penyediaan layanan inklusif membutuhkan sistem yang konsisten. Kita perlu memastikan setiap fakultas dan departemen memiliki kapasitas untuk memberikan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa,” jelas Prof. Jamaluddin.
Ke depan, Unhas berkomitmen untuk terus berbenah melalui penyusunan pedoman pembelajaran inklusif oleh LPMPP, pengembangan rute aksesibilitas fisik antarruang, hingga pembentukan kelompok riset disabilitas (Disability Research Group). Langkah ini dirancang agar setiap mahasiswa, tanpa memandang latar belakang fisiknya, memiliki ruang gerak yang aman dan nyaman untuk berkarya.
“Inklusivitas ini kami bangun melalui kebijakan, fasilitas, pembelajaran, riset, dan budaya akademik, bahkan kami ada TRG (Disability Research Group). Dengan pendekatan tersebut, kami ingin mahasiswa disabilitas memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang dan berkontribusi di Unhas,” tutup Prof. JJ.
Momen haru sekaligus menginspirasi terpancar saat Rektor Unhas menyematkan jas almamater merah kebanggaan kepada Muhammad Ali Syariati, mahasiswa penderita Cerebral Palsy asal Pinrang. Penyematan tersebut menjadi simbol penerimaan yang hangat sekaligus penanda dimulainya perjalanan baru bagi para mahasiswa disabilitas untuk belajar, berdaya, dan menyongsong masa depan secara bermartabat di kampus Unhas.(qas)













