Lulus S3 Usia 26 Tahun IPK Sempurna 4,00, Rika Wahyuni Buktikan Usia Muda Bukan Halangan Ukir Karya Bagi Lingkungan

Batas usia dan keraguan publik tak pernah sanggup menyurutkan langkah Rika Wahyuni Rusti Annisa. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun—usia yang kerap diidentikkan dengan masa pencarian jati diri Rika resmi mengukuhkan dirinya sebagai Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Tidak sekadar lulus, ia menyabet predikat cumlaude sempurna dengan IPK 4,00.

NETSULSEL | Makassar,  Batas usia dan keraguan publik tak pernah sanggup menyurutkan langkah Rika Wahyuni Rusti Annisa. Di usianya yang baru menginjak 26 tahun—usia yang kerap diidentikkan dengan masa pencarian jati diri Rika resmi mengukuhkan dirinya sebagai Doktor Ilmu Lingkungan dari Universitas Hasanuddin (Unhas). Tidak sekadar lulus, ia menyabet predikat cumlaude sempurna dengan IPK 4,00.

​Gelar tertinggi akademis ini bukan diraih lewat jalan pintas, melainkan buah perjuangan, ketajaman berpikir, dan dedikasi panjang terhadap kelestarian alam. Menolak sekadar menjadi penonton di tengah ancaman kerusakan lingkungan, Rika menembus batas kemampuan mudanya demi menghadirkan solusi konkret atas ancaman pencemaran air tambang.

​Lewat disertasi berjudul “Pengembangan Formulasi Biochar dan Geopolimer untuk Mereduksi Ion Logam Berat dalam Air Tercemar,” Rika mengolah limbah tak terpakai menjadi penyelamat ekosistem. Ia memadukan sekam padi (residu pertanian) yang dipirolisis menjadi biochar dengan fly ash (limbah industri) untuk melahirkan material adsorben komposit berkinerja tinggi.

​Perjuangan melewati ratusan uji laboratorium membuahkan hasil luar biasa. Rika menemukan formulasi optimum bernama BCG8012 (80% biochar, 20% fly ash, dan NaOH 12 M). Material ini memiliki luas permukaan luar biasa mencapai 744,296 m²/g, membuatnya sangat tangguh dalam menyerap dan mereduksi ion logam berat berbahaya seperti tembaga (Cu²⁺), nikel (Ni²⁺), dan timbal (Pb²⁺).

​Bagi Rika, keberhasilannya meraih gelar doktor di usia 26 tahun bukan sekadar tentang selembar ijazah atau rekor akademis. Ini adalah wujud bakti dan bukti nyata bahwa anak muda mampu memberikan sumbangsih ilmiah yang relevan bagi bumi.

​”Kontribusi saya bukan sekadar menghasilkan komposit, tetapi memberikan pemahaman mengenai bagaimana formulasi menentukan struktur, struktur menentukan fungsi adsorpsi, dan bagaimana fungsi tersebut diuji dalam konteks lingkungan nyata,” tegas Rika.

​Kisah Rika Wahyuni adalah tamparan keras bagi siapa pun yang memandang sebelah mata peran pemuda. Ia membuktikan bahwa dengan tekad baja dan kerja keras, generasi muda Indonesia tidak hanya mampu bertengger di puncak akademis, tetapi juga menjadi garda terdepan pelindung masa depan ekosistem bangsa. (qas)