Menelusuri Garis Keturunan Najib Razak ke Tanah Gowa, Sultan Hasanuddin (I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape)

Najib Razak saat berkunjung ditanah kelahiran leluhurnya yang merupakan Raja Gowa, Sultan Hasanuddin

NETSULSEL | ​Kuala Lumpur-Malaysia, Di tengah sorotan tajam dinamika hukum internasional dan proses hukum yang terus bergulir di Malaysia, sosok mantan Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak menyimpan sebuah catatan silsilah dan memori historis yang erat kaitannya dengan Nusantara, khususnya dari tanah Sulawesi Selatan.

​Berdasarkan literatur sejarah dan catatan silsilah keluarga, Najib Razak memang memiliki garis keturunan bangsawan yang berakar kuat dari Kerajaan Gowa. Silsilah keluarga tersebut menunjuk pada hubungan darah dengan Raja Gowa ke-19, yaitu I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone Sultan Abdul Djalil Tumenanga ri Lakiung, yang merupakan putra dari Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin (I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangeape)

​Migrasi Leluhur dan Terbentuknya Kampung Mengkasar
​Sejarah pertalian ini bermula sekitar tahun 1721. Di tengah pergolakan politik masa lampau di Sulawesi Selatan, para leluhur keluarga tersebut melakukan migrasi ke Semenanjung Malaya. Di sana, mereka membuka perkampungan baru di wilayah Pahang, yang hingga kini diabadikan sebagai Kampung Mengkasar (Kampung Makassar).

​Di negeri Pahang, para keturunan bangsawan Gowa ini menempati posisi terhormat dalam struktur sosial tradisional setempat. Najib Razak sendiri mewarisi kedudukan tersebut dengan menyandang gelar tradisional sebagai salah seorang Orang Besar Berempat dengan gelar Orang Kaya Indera Syahbandar.

​Momen “Sirih Pulang ke Gagang”: Napak Tilas Kunjungan ke Gowa
​Ikatan emosional antara Najib Razak dan tanah leluhurnya bukan sekadar catatan di atas kertas. Semasa menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia, Najib tercatat pernah melakukan kunjungan khusus ke Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

​Dalam kunjungan bersejarahnya pada tahun 2009 silam, Najib mendatangi kompleks pemakaman Raja-raja Gowa di Desa Palantikang untuk melakukan ziarah ke makam para leluhurnya. Tidak hanya itu, ia juga hadir memenuhi undangan khusus dalam perayaan Hari Jadi Kabupaten Gowa, serta disambut dengan prosesi adat kebesaran diraja Gowa.

​Saat menerima anugerah gelar kehormatan adat, Najib sempat mengungkapkan rasa haru yang mendalam. Ia menyebut kunjungannya ke Gowa laksana “sirih pulang ke gagang” sebuah perumpamaan emosional yang menggambarkan anak rantau berdarah Gowa yang kembali menapakkan kaki di tanah asal leluhurnya. Perpaduan rumpun Nusantara ini memperlihatkan bagaimana kedekatan historis antara Indonesia dan Malaysia tidak hanya terjalin melalui hubungan diplomasi modern, tetapi juga mengakar jauh pada lembaran sejarah masa lampau. (ita)