
NETSULSEL | Pangkep-Soppeng, Di dalam sebait mantra kuno yang dirapalkan lirik oleh Puang Matoa, tersimpan riwayat bahasa yang kini hampir tak lagi berjejak di bumi Sulawesi Selatan. Bahasa itu adalah Basa Torilangi—bahasa ritual para Bintang dan Dewata yang selama berabad-abad hanya dituturkan oleh Bissu, sosok pendeta gender transendental dalam kosmologi spiritual Bugis.
Namun, di lembaran sejarah hari ini, gema Basa Torilangi kian sayup dan berada di ambang sunyi yang abadi.
Keberadaan Bissu murni di Sulawesi Selatan, khususnya di basis utamanya seperti Pangkep dan Soppeng, kini bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Mayoritas dari mereka telah berusia sepuh. Krisis penerus ini bukan sekadar ancaman bagi eksistensi keberagaman gender dalam tradisi lokal, melainkan ancaman nyata bagi musnahnya literasi lisan, bahasa kuno, dan pengetahuan obat-obatan tradisional yang tersimpan rapi di ingatan para Bissu.

Basa Torilangi, Bahasa Ritual yang Terancam Bisu
Selama ini, publik dan media kerap memotret Bissu hanya dari kacamata identitas gender yang melampaui maskulin dan feminin. Padahal, peran paling krusial dari seorang Bissu adalah sebagai penjaga pintu komunikasi transendental antara manusia dan Sang Pencipta (Patuwa Uji) melalui naskah lisan I La Galigo.
Untuk menjalankan peran spiritual tersebut—seperti penobatan raja, ritual panen Mappalili, hingga penyucian benda pusaka (Muttiri)—seorang Bissu wajib menguasai Basa Torilangi. Bahasa ini memiliki struktur tata bahasa, kosakata, dan intonasi yang sepenuhnya berbeda dari bahasa Bugis sehari-hari.
”Basa Torilangi itu tidak tertulis di buku. Dia diturunkan lewat bisikan lisan dari satu Bissu senior ke calon penerusnya (Calabai Matasa). Kalau tidak ada lagi generasi muda yang ditahbiskan menjadi Bissu, maka bahasa ini akan ikut terkubur bersama jasad kami,” tutur salah seorang tokoh Bissu di Pangkep dengan nada getir.

Tanpa adanya dokumentasi tekstual yang sistematis, kepunahan para Bissu usia lanjut ini secara otomatis akan menghapus Basa Torilangi dari peta bahasa dunia.
Hilangnya Laboratorium Herbal dan Pengetahuan Pengobatan Kuno
Dampak tersembunyi lain dari krisis regenerasi ini adalah ancaman hilangnya pengetahuan etnobotani atau obat-obatan tradisional Bugis.
Sejak ratusan tahun lalu, para Bissu bertindak sebagai sanro (penyembuh) bagi masyarakat adat. Mereka memiliki pemahaman mendalam tentang penanggalan alam, jenis dedaunan hutan, akar-akaran, serta racikan herbal yang dikombinasikan dengan pembacaan mantra pua-pua.
Sistem pengobatan herbal ini murni mengandalkan hafalan dan pengalaman spiritual. Sayangnya, karena stigma sosial dan arus modernisasi yang menggerus tradisi, anak-anak muda lokal kian enggan mempelajari khazanah pengobatan kuno ini dari para Bissu.
Menolak Punah, Antara Stigma dan Kepungan Modernitas
Minimnya regenerasi Bissu di Pangkep dan Soppeng tak lepas dari tekanan sosial, salah kaprah pemahaman keagamaan modern, serta absennya perlindungan sistematis dari pemerintah daerah terhadap pelestarian literasi lisan ini.
Para budayawan Sulsel menilai, jika pemerintah dan akademisi hanya menempatkan Bissu sebagai komoditas pertunjukan seni tanpa menyelamatkan inti pengetahuannya seperti meriset dan membukukan Basa Torilangi serta metode pengobatannya maka Indonesia sedang bersiap kehilangan salah satu warisan peradaban tertua di Nusantara.
”Ini bukan lagi soal mempertahankan sosok Bissu semata, tapi soal menyelamatkan perpustakaan hidup peradaban Bugis. Ketika Bissu terakhir berpulang, kita tidak hanya kehilangan seorang figur adat, tapi kehilangan satu bahasa dan seluruh ilmu pengetahuan kuno yang dikandungnya,” ungkap akademisi kebudayaan lokal.
Waktu kian berjalan. Di sudut-sudut bola arloji yang terus berputar di Pangkep dan Soppeng, mantra-mantra Basa Torilangi masih dilantunkan secara samar oleh jemari-jemari keriput para Bissu senior. Tugas sejarah kini berada di pundak generasi hari ini: biarkan bahasa para dewa itu punah ditelan zaman, atau mencatatnya sebelum semuanya terlambat.(ita)




