Menjelajah Cita Rasa Masa Lalu: 3 Kuliner Ekstrem Etnik Bugis-Makassar Warisan Leluhur yang Terlupakan, Dari Kuda Hingga Ikan Hitam Pekat

3 kuliner ekstreem etnik Bugis-Makassar ini dari olahan daging kuda hingga ikan

NETSULSEL | Makassar, Ada aroma arang bambu yang bergesek dengan embun pagi, membuai indra penciuman di sebuah sudut perkampungan tua di pedalaman Sulawesi Selatan. Perjalanan kali ini bukan sekadar melintasi hamparan sawah hijau atau menatap megahnya pegunungan kapur karst. Ini adalah sebuah penjelajahan waktu sebuah retro journey menyusuri lorong-lorong memori kuliner leluhur Bugis, Makassar, dan Luwu yang kian tertelan zaman.

​Di tengah gempuran modernisasi dan waralaba makanan cepat saji, tersimpan rahasia dapur kuno yang ekstrem, unik, dan penuh dengan filosofi ketahanan hidup. Mari kita singkap tabir tiga kuliner ekstrem etnik yang jarang tersentuh sorot kamera media modern.

​Pa’piong: Simfoni Bambu dan Api Peninggalan Manusia Purba
​Jauh sebelum kompor gas dan panci aluminium dikenal, nenek moyang di tatanan adat pegunungan menggunakan bilah-bilah bambu sebagai wadah memasak semesta. Pa’piong—teknik memasak di dalam ruas bambu yang dibakar di atas bara menyala—adalah mahakarya kuliner purba.

​Sejarah & Filosofi: Dalam tradisi masyarakat adat setempat, pa’piong dulunya disajikan dalam ritual-ritual sakral penobatan kepala adat dan syukuran panen raya. Pemilihan bambu muda bukan tanpa alasan; dalam filosofi lokal, bambu melambangkan fleksibilitas, ketahanan terhadap terpaan angin badai, serta persatuan antar-ruas yang kokoh.

pa’piong

​Sensasi Rasa: Ketika bilah bambu dibelah, uap mengepul membawa aroma khas daun mayana (kapur barus hutan) dan rempah purba yang meresap sempurna ke dalam daging. Rasanya yang pekat dan gurih alami membawa lidah kita melompat ratusan tahun ke belakang, merasakan kehangatan yang sama seperti yang dirasakan para leluhur di beranda rumah panggung kayu.

​Be’dendang: Keberanian Pesisir dalam Irisan Daging Kuda Mentah
​Bergerak ke arah selatan, menyusuri angin laut yang asin di pesisir Sulawesi, terdapat tradisi kuliner yang menguji nyali para pelancong: Be’dendang. Berbeda dari sate kuda jeneponto yang lazim dibakar, be’dendang menyajikan irisan tipis daging kuda segar yang dibumbui rempah mentah tanpa proses pemanasan panjang.

Be’dendang

​Sejarah & Filosofi: Kuda bagi masyarakat adat pesisir selatan bukan sekadar alat transportasi atau simbol status bangsawan (darah makkunrai atau karaeng), melainkan lambang tenaga, keberanian, dan vitalitas. Hidangan ini lahir dari kebiasaan para pelaut dan ksatria tempo dulu yang membutuhkan asupan energi instan di tengah pelayaran panjang tanpa merusak nutrisi daging.

​Sensasi Rasa: Perpaduan asamnya jeruk limau lokal dan cabai rawit pedas yang membakar lidah langsung menetralkan tekstur kenyal daging kuda segar. Ini adalah hidangan para pemberani—sebuah bukti otentik bagaimana ketangguhan fisik dan mental dirayakan lewat piring makan.

​Bau Peapi Khas Luwu: Hitam Gelap yang Menyimpan Misteri Rempah Hutan
​Perjalanan retro kita ditutup di wilayah peradaban tertua di Tana Luwu. Di sini, hidangan ikan air tawar atau ikan laut diolah menjadi Bau Peapi dengan versi paling purba: menggunakan kuah hitam pekat dari rempah-rempah hutan dan jinten hitam lokal.

Bau Peapi

​Sejarah & Filosofi: Warna hitam pekat pada kuahnya bukan karena hangus, melainkan hasil racikan dedaunan hutan dan rimpang yang dibakar arang terlebih dahulu sebelum ditumbuk bersama. Bagi masyarakat Luwu kuno, warna hitam melambangkan misteri alam semesta dan kedalaman kebijaksanaan para tetua adat yang tidak mudah diungkap dengan kata-kata.

​Sensasi Rasa: Begitu diseruput, kuahnya memberikan sensasi hangat yang langsung menusuk tenggorokan. Rasa pedas berempah yang kuat berpadu dengan gurihnya daging ikan segar, menciptakan harmoni rasa yang misterius sekaligus nagih.

​Menjaga Warisan di Ujung Kepunahan
​Menyusuri kuliner ekstrem ini ibarat membaca buku sejarah yang ditulis dengan lidah dan rempah. Ketiga hidangan ini bukan sekadar makanan pengisi perut, melainkan arsip hidup dari peradaban etnik Sulawesi Selatan yang mengajarkan kita tentang cara manusia berdamai dengan alam.

​Sudah saatnya warisan rasa para leluhur ini kembali diberi tempat di panggung utama, sebelum ia benar-benar lenyap ditelan zaman modern. (ita)