NETSULSEL | Makassar, Aroma sangrai kopi susu yang pekat membumbung dari sudut Warkop 183, Jalan Perintis Kemerdekaan KM 14, tepat di seberang gerbang AURI Daya. Di balik denting cangkir dan kepulan asap rokok yang membubung tipis, September 2026 menyapa Makassar tidak hanya dengan hawa terik musim kemarau, tetapi juga bayang-bayang pemadaman listrik bergilir yang merenggut gelap dan dingin dari rumah-rumah warga.

Selasa siang (1/9/2026), meja-meja kayu di warkop itu berubah menjadi panggung kecil tempat rakyat biasa mengeja nasib. Bagi komunitas yang menamai diri mereka 183 Community, mati lampu bukan sekadar persoalan kulkas yang mencair atau kipas angin yang mati; ia adalah ujian kesabaran atas kebijakan yang kerap alpa menengok jelata.
Di salah satu sudut meja, H. Dass mengaduk kopi susunya dengan ketukan yang tegas. Tatapannya menatap lurus, menyimpan kekesalan yang mewakili jeritan warga pinggiran. Bagi pria yang dikenal vokal ini, pemadaman bergilir adalah potret ketidakadilan yang berulang.
”Saya tidak benci siapapun yang memimpin bangsa ini, namun kebijakan yang tidak berpihak akan saya lawan,” cetusnya. Suaranya berat, menembus riuh suara mesin pembuat kopi. Di matanya, rakyat kecillagilagi menjadi pihak yang paling rentan menanggung beban dari kelalaian tata kelola energi.
Namun, Warkop 183 bukan ruang hampa yang hanya berisi satu warna. Di seberang meja H. Dass, H. Ir. Syarif merespons dengan ketenangan seorang purnabakti. Pensiunan ASN ini memandang krisis dengan kacamata dingin seorang teknokrat yang memahami rengkuhan kemarau panjang terhadap debit air pembangkit listrik.
”Sepanjang kondisi ini, maka kita harus bijaksana terhadap pemadaman listrik bergilir ini,” ungkapnya perlahan. Ia mengajak kepala dingin, melihat surutnya pasokan listrik sebagai keniscayaan alam yang menuntut kompromi warga.
Dua sudut pandang berbenturan yang satu mengusung nada perlawanan, yang lain menawarkan penerimaan. Namun, di situlah keajaiban warkop Makassar bekerja. Silat lidah yang tajam tak pernah sanggup melukai kehangatan persahabatan mereka. Berbeda pandangan adalah bumbu, tetapi duduk bertatap muka adalah perekat. Gelak tawa kembali pecah begitu racikan kopi susu khas Warkop 183 diseruput habis, diselingi gurihnya sepiring nasi kuning dan manisnya kue-kue tradisional yang tersaji di meja.
Di tengah sengitnya dinamika warga dan menjamurnya kedai kopi modern di pelosok Makassar, Agung, sang pemilik Warkop 183, memilih berdiri di atas kesederhanaan yang merakyat. Ia paham betul bahwa dalam era persaingan ketat, kehangatan humanis adalah hal yang tak bisa dibeli oleh mesin kopi canggih manapun.
”Pelayanan terbaik yang kami suguhkan, kopi susu khas adalah bonusnya,” celetuk Agung sembari tersenyum ramah menyapa pelanggannya yang datang dan pergi.
Listrik boleh saja padam dan membenamkan sebagian sudut Makassar dalam kegelapan. Namun di Warkop 183, ruang dialog yang hangat, kepedulian warga, serta secangkir kopi susu akan selalu menyala, merawat persaudaraan di tengah riuknya kota. (AA)/ita)





