Pesona Annyorong Lopi Festival Pinisi 2026, Memukau Turis Asing hingga Kapal Siap Berlayar ke Labuan Bajo

Inilah Annyorong Lopi, sebuah tradisi sakral peluncuran kapal pinisi yang menjadi mahkota dalam rangkaian Festival Pinisi XVI Tahun 2026. Di balik deburan ombak dan bau khas kayu laut, tradisi ini menjelma menjadi panggung keajaiban budaya yang meruntuhkan batas-batas geografis.

NETSULSEL | Bulukumba — Pantai Bira di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, mendadak bergemuruh oleh sorak sorai dan decak kagum. Di bawah terik matahari pesisir, deretan tangan dari berbagai belahan dunia tampak bersatu menarik tali tambang raksasa, bahu-membahu dengan warga lokal mendorong sebuah karya mahakarya leluhur menuju ke pangkuan samudra.

​Inilah Annyorong Lopi, sebuah tradisi sakral peluncuran kapal pinisi yang menjadi mahkota dalam rangkaian Festival Pinisi XVI Tahun 2026. Di balik deburan ombak dan bau khas kayu laut, tradisi ini menjelma menjadi panggung keajaiban budaya yang meruntuhkan batas-batas geografis.

​Belasan wisatawan mancanegara—mulai dari pelancong asal Kanada, Jepang, Prancis, Belgia, hingga El Salvador—tampak larut dalam antusiasme yang luar biasa. Tanpa canggung, mereka ikut berdesakan di antara warga, mengangkat kamera, mengabadikan setiap detik, hingga turut mengambil bagian dalam ritual gotong royong mendorong kapal tradisonal tersebut. Bagi mereka, Annyorong Lopi bukan sekadar tontonan visual, melainkan sebuah pengalaman spiritual tentang kerja sama manusia dan alam.

​Kehangatan prosesi ini turut disaksikan langsung oleh Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, Wakil Bupati Andi Edy Manaf beserta jajaran Forkopimda, serta perwakilan Kementerian Pariwisata. Kehadiran para pelancong asing ini seakan menegaskan bahwa kearifan lokal Bulukumba telah memancarkan daya pikat yang menembus batas dunia.

​Kapal pinisi yang hari itu resmi dilepas ke air memiliki spesifikasi membanggakan: panjang 25 meter dan lebar 5 meter. Di balik megahnya lambung kapal, tersimpan keringat dan ketekunan para tangan-tangan terampil pengrajin lokal di bantilang Panrang Luhu, Desa Bira. H. Ariawan, pemilik kapal sekaligus sang pengusaha, mengungkapkan bahwa mahakarya kayu ini lahir dari proses pengerjaan yang telaten selama enam bulan penuh, terhitung sejak Mei hingga Oktober 2026.

​”Kapal ini mau dibawa ke Labuan Bajo untuk keperluan wisata sailing dan diving,” ungkap H. Ariawan dengan mata binar penuh bangga di bantilang Panrang Luhu, Jumat (16/10/2026).

​Langkah kapal pinisi menuju perairan Labuan Bajo kelak bukan sekadar urusan bisnis pariwisata bahari, melainkan sebuah duta budaya berjalan. Ia membawa serta nama besar Bulukumba—tempat di mana warisan nenek moyang dirawat dengan penuh kehormatan.

Turis yang datang ke Festival phinisi ini, tak ketinggalan turut berpartisipasi saat tradisi Anyorong Lopi dilakukan.

​Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, dalam pandangannya memaknai Annyorong Lopi lebih dari sekadar atraksi budaya. Menurutnya, tradisi ini adalah potret hidup dari etos kerja, jiwa korsa, dan kekompakan kolektif masyarakat Bugis-Makassar yang diwariskan lintas generasi.

​”Ini bukti kebersamaan dan etos kerja masyarakat Bulukumba. Pinisi sarat dengan kearifan lokal. Di sini menjadi bukti kekompakan,” tegasnya penuh apresiasi.

​Sebelum prosesi peluncuran dimulai, para hadirin sempat dibawa hanyut dalam penuturan filosofis yang menyentuh jiwa dari budayawan Bulukumba, Andi Abdul Karim atau yang akrab disapa Andhika Mappasomba. Melalui storytelling yang memikat, ia mengingatkan bahwa pelestarian tradisi ini adalah benteng pertahanan identitas. Jika bukan generasi hari ini yang menjaga, dikhawatirkan anak cucu kelak hanya akan mengenal pinisi dari buku sejarah, tanpa mengerti denyut filosofi di dalamnya.

​Menariknya, prosesi modernisasi turut berpadu selaras dengan tradisi. Jika dahulu penarikan dilakukan secara manual sepenuhnya, kini teknologi katrol pintar ikut membantu memudahkan pergerakan raksasa kayu tersebut meluncur mulus ke tepian pantai, memperlihatkan bagaimana tradisi mampu beradaptasi tanpa kehilangan roh aslinya.

​Hari itu, dari Bulukumba untuk dunia, pinisi kembali membuktikan bahwa ia bukan sekadar perahu. Ia adalah simbol ketangguhan, persaudaraan, dan mahakarya peradaban maritim nusantara yang siap mengarungi samudra global dengan kepala tegak. (istimewa)