NETSULSEL | Bandung, Di balik riuh rendah tawa anak-anak sekolah yang menantikan hangatnya makanan bergizi setiap pagi, ada jiwa yang perlahan-lahan meredup dalam sepi. Ruang dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Rancamulya, Kabupaten Bandung, kini mendadak dingin dan membeku. Sang kepala satuan, seorang pemuda berusia 26 tahun yang mendedikasikan harinya untuk memastikan perut-perut mungil tak kelaparan, telah pergi selamanya dengan cara yang teramat menyayat hati. Tubuhnya ditemukan kaku, tergantung di kesunyian lantai 12 parkiran Kings Shopping Center, Bandung, pada Minggu pagi yang berkabut baru-baru ini.
Fajri, pemilik dapur SPPG, terduduk lemas dengan tatapan kosong. Ia tak pernah menduga bahwa pertemuannya di bulan September 2025 dengan pemuda yang dikenal humoris dan hangat itu akan berakhir dalam duka yang teramat pekat. Tiga bulan terakhir, keceriaan korban perlahan menguap, digantikan oleh tembok tinggi keputusasaan yang ia bangun sendiri. Ia mulai menutup diri, menarik napasnya dalam-dalam di sudut ruangan, dan lebih sering melamun menatap kekosongan, menyembunyikan badai besar di balik senyum tipisnya yang kian hari kian memudar.
”Kami sering bertanya, apakah ia sedang menghadapi masalah. Namun, jawabannya selalu sama: ia berkata tidak ada apa-apa,” kenang Fajri dengan suara bergetar dan dada sesak.
Dua minggu sebelum kepergiannya, telepon genggam pemuda malang itu mati total seolah ia memang sedang bersiap-siap untuk benar-benar menghilang dari bisingnya dunia. Tanpa ada yang menyadari, ia tengah melangkah sendirian di jalan yang gelap, tanpa seorang pun yang mampu menjangkau jemari tangannya yang mulai dingin.
Kini, setelah tubuhnya dievakuasi oleh petugas dari ketinggian gedung parkir, yang tersisa hanyalah kepedihan yang teramat sangat bagi keluarga yang ditinggalkan. Kapolsek Regol, Kompol Megawati Triyani, mengonfirmasi penemuan jasad korban bersama beberapa barang pribadi yang ditinggalkannya di tepi jurang keputusasaan, sepasang sandal yang dingin, sebuah KTP, telepon genggam yang membisu, dan sepucuk surat permohonan maaf yang ditulis dengan tangan yang gemetar. Surat yang menjadi saksi bisu betapa beratnya beban hidup yang ia pikul sendirian hingga akhir hayatnya.
Kepergian pemuda santun yang belum sempat membangun rumah tangganya sendiri ini menyisakan luka menganga, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi ratusan anak sekolah dan balita posyandu yang selama ini ia layani dengan tulus. Dapur SPPG kini terpaksa berhenti beroperasi; kompor-kompor mati, panci-panci besar mendingin, dan keceriaan di sana mendadak sirna. Di balik hilangnya sosok sang kepala pelayanan, ada kepedihan mendalam yang membisikkan satu tanya yang terlambat, mengapa kepeduliannya yang begitu besar terhadap gizi anak-anak, tak mampu memberi makan jiwanya sendiri yang kelaparan akan kedamaian?(duppa)





