
NETSULSEL | Makassar, Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperkuat tata kelola, manajemen risiko, serta budaya perbaikan berkelanjutan di lingkungan kampusnya melalui peningkatan kapasitas para auditor internal. Langkah strategis ini diwujudkan melalui agenda In House Training Auditor Internal ISO yang diselenggarakan oleh Pusat Manajemen Risiko dan Reformasi Birokrasi Unhas di Unhas Hotel & Convention pada 4–6 September 2026.
Pelatihan yang diikuti oleh perwakilan Tim Pokja dari fakultas dan unit kerja se-Unhas ini dirancang untuk mengasah keterampilan audit internal secara sistematis, objektif, dan berbasis risiko. Selama tiga hari, para peserta mendapatkan pembekalan intensif mengenai prinsip dasar, jenis-jenis audit, hingga pengelolaan manajemen program audit yang terukur agar pemeriksaan internal berjalan efektif.
Hadir sebagai pemateri, Wasis Swo Leksana, S.T., M.M. dari lembaga sertifikasi Sakti Indonesia, memaparkan pentingnya pemahaman terhadap ruang lingkup dan prinsip audit. “Pemahaman terhadap program audit diperlukan agar pemeriksaan berlangsung terencana dan memiliki arah yang jelas. Setiap audit perlu memiliki tujuan dan ruang lingkup yang terukur sehingga hasilnya dapat memberikan gambaran objektif mengenai proses dan sistem yang diperiksa,” ujar Wasis.
Wasis turut mendalami tiga jenis audit (first, second, dan third-party audit) serta tujuh prinsip utama pelaksanaan audit, meliputi integritas, penyajian wajar, kerahasiaan, hingga pendekatan berbasis bukti dan risiko. Implementasi ketat terhadap prinsip-prinsip ini dinilai krusial guna menjaga objektivitas serta ketelitian auditor saat mengevaluasi kinerja dan sistem di tiap unit.
Sementara itu, Sekretaris Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Eng. Amiruddin, S.Si., M.Si., menegaskan bahwa penguatan kapasitas auditor internal sangat vital demi mendukung tata kelola universitas yang tertib dan transparan. “Audit internal memberikan gambaran objektif terhadap kondisi organisasi, mengidentifikasi risiko, dan menemukan ruang perbaikan. Karena itu, auditor perlu memiliki kompetensi dan pemahaman yang sama mengenai standar serta prinsip audit yang digunakan,” ungkap Prof. Amiruddin.
Prof. Amiruddin berharap hasil pemeriksaan internal ini dapat dijadikan bahan evaluasi konkret untuk mendorong perbaikan kinerja Unhas secara menyeluruh. Lewat pelatihan berbasis ISO ini, Unhas optimistis mampu membangun keseragaman pemahaman antar-unit kerja sekaligus mengukuhkan budaya evaluasi dan tata kelola perguruan tinggi yang berkelanjutan.(baba)
















