NETSULSEL | Makassar. Cinta yang tulus sejatinya melindungi, bukan mengurung dalam sangkar penderitaan. Namun bagi YTR (29), cinta justru menjadi awal dari neraka dunia yang harus ia jalani selama tiga tahun penuh siksaan.
Kisah pilu penyekapan dan penganiayaan yang dilakukan oleh kekasihnya, Taufik Hidayat (30), kini tengah menjadi sorotan tajam publik. Di balik jeruji besi Polda Jawa Barat, pelarian Taufik memang telah berakhir. Namun, luka mendalam yang ia tinggalkan pada korban dan keluarganya akan membekas seumur hidup.
Anak Kesayangan yang Tumbuh Menjadi Monster
Misteri di balik watak kejam pria asal Nagreg, Kabupaten Bandung ini perlahan mulai tersingkap. Sang ayah, Tata, membuka tabir masa lalu Taufik yang selama ini tersimpan rapat. Dengan nada bicara yang menyiratkan penyesalan mendalam, Tata mengakui bahwa Taufik adalah anak yang paling ia manjakan di antara empat bersaudara.

Alasannya sangat ironis: hanya karena Taufik memiliki paras yang lebih tampan dibanding saudara-saudaranya.
”Benar (paling) disayang. Ganteng gitu lah, beda dari yang lain,” ungkap Tata dalam sebuah dialog di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi.
Ego Taufik dipupuk sejak kecil. Setiap kali ia terlibat perkelahian dengan orang lain, sang ayah selalu pasang badan untuk membelanya. Manja yang berlebihan itu perlahan mengubah Taufik menjadi sosok yang manipulatif dan tak tersentuh—bahkan oleh hukum moral di dalam keluarganya sendiri.
Ibunda Taufik sendiri diketahui telah meninggal dunia, diduga akibat tekanan mental atau stres berat yang dialaminya semasa hidup.
Jejak Kekejaman yang Mengerikan
Sisi mengerikan Taufik sebenarnya sudah terlihat jauh sebelum ia menyekap YTR. Pria bertubuh tegap ini ternyata tega melakukan kekerasan fisik kepada ayah kandungnya sendiri. Hanya karena perkara perut dan tidak ada lauk di rumah, Taufik nekat mendatangi ayahnya yang sedang bertani di sawah, lalu menghantam kepala pria tua itu menggunakan sebatang kayu.
”Untung saya ada teman dua orang, jadi ditolong. Habis itu dia kabur mungkin selama satu minggu, lalu kembali dan minta maaf sambil nangis,” kenang Tata pilu.
Sikap sang ayah yang selalu memaafkan kekerasan tersebut justru menjadi bumerang. Taufik tumbuh dengan keyakinan bahwa ia bisa lolos dari tindakan keji apa pun. Watak menakutkan inilah yang kemudian berujung pada penyekapan sadis terhadap kekasihnya, YTR, selama tiga tahun berturut-turut di bawah pengaruh alkohol harian.
Masa Depan yang Direnggut dan Jeritan Hati Keluarga
Kini, Taufik mungkin menunduk lesu di sel khusus setelah ditangkap di kawasan Majalaya pada Selasa (23/6/2026) malam. Polisi menyebut Taufik sempat melarikan diri ke Tangerang dalam kondisi paranoid, ketakutan, dan selalu mencurigai orang-orang di sekitarnya.
Namun, ketakutan yang dialami Taufik di pelarian tidak sebanding dengan trauma mendalam yang dirasakan YTR. Saat ini, YTR masih terbaring di rumah sakit, berjuang untuk memulihkan mental dan fisiknya yang telah hancur. Bibi korban, Erni, tak mampu menyembunyikan rasa geram sekaligus kesedihan yang mendalam. Ia menegaskan bahwa masa depan keponakannya telah dirampas secara paksa oleh kekejaman Taufik.
”Kami ingin pelaku dihukum seberat-beratnya. Masa depan keponakan saya masih panjang, dia baru 29 tahun. Keponakan saya sudah cacat. Kondisinya mengkhawatirkan,” kata Erni dengan suara bergetar, berharap keadilan berpihak pada mereka.
Sebuah Pesan Kewaspadaan
Tragedi yang menimpa YTR adalah alarm keras bagi kita semua. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa monster yang paling menakutkan sering kali bersembunyi di balik wajah yang paling kita sayangi.
Atas nama cinta, jangan pernah memaklumi kekerasan. Jika pasanganmu sudah mulai bermain fisik, melakukan intimidasi, membatasi ruang gerak, atau mengontrol hidupmu dengan ancaman, segeralah mencari pertolongan. Cinta yang sehat tidak akan pernah menghancurkan fisik dan jiwamu. Jangan biarkan ruang domestik menjadi tempat penyiksaan yang tersembunyi. Tetaplah waspada. (ita)





