Diskresi Bahlil, Karpet Merah Aco Menuju Golkar Sulsel, Acha, Ancha dan Aru Siap dampingi?

NETSULSEL | Makassar, Bursa Pemilihan Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) mendadak menghangat. Mantan Wali Kota Makassar dua periode, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), resmi mengantongi surat diskresi langsung dari Ketua Umum DPP Golkar, Bahlil Lahadalia, di Jakarta.

​Surat “mantra pamungkas” ini disebut-sebut menjadi karpet merah bagi politisi yang akrab disapa Aco tersebut untuk melenggang bebas menuju kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel.

​Bagi Aco, menakhodai Beringin Sulsel bukanlah hal baru. Memulai karier dari bawah di partai ini, ia sukses menjadi legislator DPRD Sulsel hingga menduduki kursi Wali Kota Makassar selama dua periode. Sederet pengalaman tersebut membuat posisi Ketua Golkar Sulsel dinilai berada di atas angin dalam genggamannya.

Teka-teki Posisi Sekretaris: 3 ‘A’ Berebut Kursi

Meski Musda Golkar Sulsel belum digelar dan IAS belum resmi dilantik, internal partai sudah mulai riuh membicarakan siapa sosok yang paling tepat mendampingi Aco sebagai Sekretaris DPD I. Posisi ini krusial demi mengawal target besar pemilu hingga 2031.

​Menariknya, muncul spekulasi kuat yang mengerucut pada tiga nama kader muda potensial. Uniknya, ketiganya memiliki nama panggilan yang diawali dengan huruf A: Ancha, Acha, dan Aru.

​Siapa saja mereka? Berikut profil kekuatan masing-masing kandidat:

​1. Ancha (Supriansyah, SH., MH.)

​Profil: Politisi senior asal Kabupaten Soppeng sekaligus pengacara muda yang mengawali karier sebagai aktivis LSM pembela hak masyarakat di Makassar.

​Karier Politik: Mantan Wakil Bupati Soppeng (mendampingi Kaswadi Razak) dan pernah duduk sebagai anggota Komisi III DPR RI Fraksi Golkar Dapil Sulsel II (Bone, Soppeng, Bulukumba, Sinjai, Wajo).

​Kelebihan: Memiliki modal elektoral kuat dan jaringan akar rumput yang solid di daerah.

​2. Acha (Abdul Razak Said, SH.)

​Profil: Mantan Ketua Badko HMI Sulawesi Selatan dan alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Saat ini, ia banyak membangun jaringan di tingkat nasional (Jakarta).

​Kelebihan: Merepresentasikan kelompok muda dan aktivis. Acha dikenal sangat supel serta merupakan bagian dari gerbong politisi senior Golkar, Nurdin Halid.

​”Golkar butuh kaderisasi. Kalau Pak Aco jadi ketua, beliau sosok senior. Maka butuh didampingi sosok muda seperti Kak Acha. Walau banyak beraktivitas di Jakarta, jaringannya di Sulsel sangat kuat,” ujar AS Batara, kader muda Golkar.

​3. Aru (Farouk M. Beta)

​Profil: Mantan Ketua DPRD Kota Makassar dua periode dan alumni Fakultas Teknik UMI.

​Kelebihan: Aru adalah loyalis lama Aco. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Golkar Makassar mendampingi Aco, sekaligus menjadi penyokong utama kebijakan Aco di parlemen saat menjabat Wali Kota.

​Tantangan: Langkah Aru disebut mendapat ganjalan isu masa lalu. Menurut selentingan sumber internal, Aru sempat dinilai “membelot” dari gerbong Aco ketika IAS memutuskan pindah ke Partai Demokrat beberapa tahun silam.

Siapa yang Akan Dipilih Aco?

​Ketiga figur—Ancha, Acha, dan Aru—memiliki keunggulan strategis masing-masing, mulai dari kekuatan geopolitik, jaringan pusat-daerah, hingga faktor historis loyalitas.

​Kombinasi kepemimpinan Aco dengan salah satu dari trio ‘A’ ini akan menjadi penentu arah kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan dalam menatap pemilu mendatang.(ita)