Menolak Punah di Era Digital, Ketika Kecerdasan Buatan Mulai Berbahasa Makassar
NETSULSEL | Makassar, Di tengah derasnya arus modernisasi, ada kekhawatiran yang diam-diam mengintai: akankah bahasa daerah kita selamat di masa depan? Ketika dunia hari ini dikendalikan oleh teknologi suara seperti Siri atau Google Assistant yang fasih berbahasa Inggris atau Mandarin, bahasa daerah seringkali terdengar “asing” di telinga kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Namun, sebuah kisah inspiratif baru saja diukir dari Indonesia Timur. Para peneliti dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, berhasil mencatatkan sejarah baru di dunia teknologi dan budaya. Untuk pertama kalinya di dunia, sebuah sistem AI dirancang khusus untuk mengenali keunikan dialek Makassar.
Langkah ini bukan sekadar inovasi teknologi biasa, melainkan sebuah surat cinta untuk pelestarian budaya Nusantara.
Menjembatani Teknologi dan Tradisi
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, partikel seperti “mi”, “ji”, atau “ko” bukan sekadar pelengkap kata. Mereka adalah ruh, penanda rasa, dan identitas dalam setiap percakapan sehari-hari yang dituturkan oleh sekitar sembilan juta jiwa.
Sayangnya, teknologi global yang ada saat ini ternyata buta terhadap kekayaan lokal tersebut. Huzain Azis, Dosen Fakultas Ilmu Komputer UMI sekaligus penulis utama riset ini, menceritakan kegelisahannya. Selama ini, teknologi pengenal suara otomatis (*Automatic Speech Recognition*/ASR) hanya ramah pada bahasa-bahasa besar.
“Bahasa dan dialek daerah dengan ketersediaan data terbatas, termasuk dialek Makassar, nyaris tidak tersentuh teknologi ini,” ungkap Huzain dengan nada prihatin namun penuh optimisme.
Sebuah Tamparan bagi Teknologi Global
Bergerak dari kegelisahan itu, Huzain tidak sendiri. Bersama tim penelitinya yang tangguh—Muh Fatwah Fajriansyah M, Herdianti Darwis, Purnawansyah, Tasrif Hasanuddin, dan Sugiarti mereka melakukan sebuah pengujian besar.
Mereka menguji empat model AI pengenal suara tercanggih di dunia saat ini menggunakan rekaman suara asli dari para penutur dialek Makassar. Hasilnya? Mengejutkan sekaligus membuka mata. Teknologi setingkat dunia sekalipun ternyata gagal total. Model terbaik yang diuji memiliki tingkat kesalahan hingga 87,73%. Artinya, hampir 9 dari 10 kata yang diucapkan dalam dialek Makassar dianggap sebagai “gangguan” atau noise oleh AI global. Teknologi modern ternyata mengalami Dialect Particle Blindness, sebuah kebutaan sistematis terhadap partikel khas Makassar seperti “mi” dan “ji”, dengan tingkat deteksi yang hanya menyentuh angka tragis: 2,9%.
Langkah Awal Menuju Inklusi Digital yang Adil
Melalui penelitian bertajuk “Development of a Low-Resource Automatic Speech Recognition System for the Makassar Dialect”, tim peneliti UMI tidak hanya mengkritik keterbatasan teknologi saat ini, tetapi juga meletakkan batu pertama untuk solusinya. Riset ini menjadi fondasi penting agar teknologi di masa depan tidak lagi diskriminatif. Ke depan, tim UMI berkomitmen untuk terus mengembangkan dataset khusus agar AI tidak hanya pintar, tetapi juga berbudaya dan mampu memahami identitas lokal.
Apa yang dilakukan oleh Universitas Muslim Indonesia adalah sebuah pengingat yang indah: bahwa di era digital yang bergerak begitu cepat, kita tidak harus meninggalkan akar budaya kita. Lewat ilmu pengetahuan, para peneliti UMI membuktikan bahwa kearifan lokal dan kecerdasan buatan justru bisa berjalan beriringan, memastikan bahwa dialek Makassar akan tetap hidup dan terdengar lantang bahkan di dalam dunia digital. (ita)













