Tragis di Balik Dinding De Harmonie. Kisah Kakek Tanpa Nama yang Berjuang Sendiri hingga Diujung Nafas

Olah dengan generate AI

NETSULSEL| ​Makassar, Malam di seputaran Gedung De Harmonie (Gedung Kesenian), Jalan Bonerate, Kelurahan Pattunnuang, Kecamatan Wajo, Kota Makassar seketika berubah mencekam. Aroma sunyi dan kepedihan menyeruak setelah warga dan pengunjung dikejutkan oleh temuan sesosok jasad kakek tua yang terbujur kaku tak bernyawa.

​Lelaki paruh baya yang diperkirakan berusia 60-an tahun itu ditemukan sudah meninggal dunia. Ia menutup mata untuk selamanya dalam kesendirian yang mutlak—tanpa identitas, tanpa dekapan hangat keluarga, dan tanpa siapa pun di sisinya.

Bertahun-tahun Berjuang dari Sisa Makanan Orang
​Kematian kakek tanpa nama ini membuka tabir getir tentang betapa kejamnya perjuangan hidup di jalanan kota. Berdasarkan kesaksian warga sekitar, almarhum telah bertahun-tahun menjalani hidup sebatang kara. Saban hari, ia harus berjuang melawan rasa lapar yang menyiksa dengan hanya mengandalkan sisa-sisa makanan yang dibuang oleh orang lain.

​Lurah Pattunnuang, Arief Rifai, mengonfirmasi bahwa warganya menemukan jasad kakek malang tersebut sekitar pukul 21.00 WITA.

Arief Rifai, Lurah Kelurahan Pattunnuang Kecamatan Wajo

​”Seorang diri tidak diketahui identitasnya. Informasi juga kakek ini ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa), sehari-hari makan dari sisa-sisa orang,” ujar Arief dengan nada prihatin.

​Selama menetap di wilayah tersebut, sang kakek hanya bisa mondar-mandir menatap langit malam, mencari sudut-sudut emperan toko atau bangunan tua sekadar untuk berteduh dari sengatan terik matahari dan dinginnya angin malam Makassar.

Olah TKP dan Evakuasi Sunyi ke Kamar Jenazah
​Mendapat laporan kepanikan warga, aparat kepolisian bergerak cepat. Tim gabungan dari Polres Pelabuhan Makassar, Polsek Wajo, bersama Biddokkes Dokpol Polda Sulsel langsung mengamankan lokasi dan menggelar Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) guna menyelidiki penyebab pasti kematiannya.

​Setelah proses identifikasi awal selesai, jasad kakek yang ringkih itu kemudian dievakuasi ke Kamar Jenazah Biddokkes Dokpol Polda Sulsel menggunakan mobil ambulans. Kepergiannya begitu sunyi, tak ada isak tangis keluarga yang mengiringi mobil jenazah yang perlahan menjauh membelah malam.

Akhir Perjalanan, Pemerintah Ambil Alih Pemakaman
​Hingga jasadnya disemayamkan di ruang pendingin rumah sakit, belum ada satu pun kerabat atau keluarga yang datang mencari atau mengenali wajah ringkih sang kakek. ​Melihat kondisi memilukan ini, Pemerintah Kelurahan Pattunnuang memastikan tidak akan membiarkan sang kakek “sendirian” di akhir perjalanannya di dunia. Pihak pemerintah setempat berkomitmen untuk mengambil alih seluruh prosesi pemulasaran hingga pemakaman.

​”Karena tak ada keluarga, kami dari pemerintah akan mengurus semuanya (proses pemakaman),” tutup Arief Rifai.

​Sang kakek kini telah menyudahi penderitaannya di jalanan. Ia pergi dalam kesunyian, meninggalkan kisah pilu tentang sebuah perjuangan hidup yang teramat berat di sudut Kota Makassar. (ita/Syamsul)