
NETSULSEL | Makassar, Momentum hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLB Negeri 1 Makassar menjadi tonggak sejarah baru dalam pelayanan pendidikan inklusif di Sulawesi Selatan. Bersamaan dengan pementasan monolog hening yang memukau, pihak sekolah secara resmi meluncurkan “Kelas Program Khusus Pengembangan Diri”. Peresmian ini ditandai secara simbolis dengan pengguntingan pita merah disebuah ruangan yang tak jauh dari Aula Handayani yang dipenuhi oleh jajaran pendidik, tokoh pendidikan, dan wali murid.

Prosesi pengguntingan pita tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Bidang PKPLK Disdik Provinsi Sulawesi Selatan, Sary Diana Muallim, S.Sos., MM., didampingi oleh Ketua Aptadi Sulawesi Selatan, DR. Iis Masdiana, M.Pd., Plt. Kepala Sekolah SLBN 1 Makassar, DR. Muhammad Nur, M.Pd., mantan Kepala SLBN 1 Makassar, Andi Hamjan, S.Pd., M.Pd., serta Ketua Komite Sekolah, Drs. Sederhana Ali. Langkah ini menjadi jawaban konkret atas kebutuhan nyata siswa disabilitas yang memerlukan ruang stimulasi non-akademis yang terstruktur.
Plt. Kepala Sekolah SLBN 1 Makassar, DR. Muhammad Nur, M.Pd., menyampaikan bahwa untuk melejitkan potensi anak-anak berkebutuhan khusus dibutuhkan sinergi yang dinamis.
”Sekolah tidak akan bisa maju tanpa adanya kolaborasi yang erat dengan masyarakat, dunia industri, dan pemerintah. Hadirnya Kelas Program Khusus yang bekerja sama dengan Kala Teater ini memberikan dampak luar biasa. Ini tidak hanya melatih karakter siswa untuk lebih percaya diri dan mengenal seni, tetapi juga memberi inspirasi baru bagi para guru kami dalam mengembangkan khazanah metode mengajar di kelas,” jelas DR. Muhammad Nur.
Kata Nur, sekolahnya siap berkolaborasi dengan siapa saja dengan masyarakat, selama untuk kepentingan pengembangan bakat dan keteramping siswa.
“kami, membuka seluas-luasnya kesempatan tersebut” jelasnya.

Kelas Program Khusus Pengembangan Diri ini sejatinya menaungi berbagai kegiatan ekstrakurikuler unggulan yang telah lama menorehkan prestasi gemilang untuk SLBN 1 Makassar, baik di kancah regional maupun nasional. Berbagai program terpadu di dalamnya meliputi kelas marching band, pramuka, seni tari, seni membatik, menjahit, teknik pertukangan, dan yang paling bungsu adalah kelas seni teater.
Sebelum resmi menggunting pita, Sary Diana Muallim dalam doanya menyampaikan harapan besar agar kelas program khusus ini mampu melahirkan kemandirian nyata bagi para siswa. Pendidikan untuk anak-anak disabilitas tidak boleh hanya terpaku pada materi akademis formal di atas kertas, melainkan harus menyentuh sisi vokasional dan penajaman bakat alami (talent mapping) sebagai bekal hidup mandiri mereka kelak.

Kemeriahan acara kemudian ditutup dengan pelaksanaan dua sesi Dialog Publik interaktif di Aula Handayani. Dialog sesi pertama menghadirkan narasumber Muh. Irsan, S.Hum., DR. Iis Masdiana, M.Pd., dan DR. Muhammad Nur, M.Pd., dengan dipandu oleh Andi Hamjan, S.Pd., M.Pd. Sementara dialog sesi kedua berlangsung hangat hingga sore hari. Kedua sesi diskusi tersebut merumuskan satu kesimpulan penting: mewujudkan kesetaraan hak, mengikis diskriminasi, dan membuka ruang kesempatan seluas-luasnya bagi anak-anak disabilitas untuk menatap masa depan tanpa batasan.(ita)










