NETSULSEL | Makassar, Gejolak politik diarena Musda ke XI Golkar Sulawesi Selatan mendadak diguncang kejutan besar. Bersamaan dengan tabuh genderang Musyawarah Daerah (Musda) DPD I Golkar Sulsel yang dibuka langsung oleh Ketua Umum Bahlil Lahadalia di Hotel Claro hari ini, Ketua DPD II Golkar Maros, Suhartina Bohari, resmi menyatakan mundur dan pamit dari partai beringin. Langkah dramatis ini langsung memicu spekulasi liar di kalangan pengamat, mengingat momentumnya bertepatan dengan puncak perebutan takhta tertinggi Golkar di Sulsel.
Suhartina secara mengejutkan mengunci rapat pintu bagi dirinya untuk bertarung kembali dalam Musda Golkar Maros mendatang. Sinyal hengkangnya srikandi politik ini ternyata bukan gertakan sambal yang muncul tiba-tiba. Suhartina blak-blakan mengaku bahwa rencana ini sudah ia rancang jauh hari dan bahkan telah dilaporkan langsung kepada kandidat kuat Ketua DPD I Golkar Sulsel, Ilham Arief Sirajuddin (IAS). “Ini bukan keputusan tiba-tiba. Waktu pertemuan dengan Kak IAS, saya sudah bilang kalau Musda DPD I selesai, kalau bisa Musda pertama dan tercepat itu Maros,” ungkap Suhartina membeberkan rahasia di balik layar.
Di tengah isu adanya keretakan internal pasca-batalnya Munafri Arifuddin (Appi) maju akibat terbitnya surat diskresi Bahlil Lahadalia untuk IAS, Suhartina langsung memasang badan. Ia membantah keras bahwa keputusannya ini merupakan imbas dari sikut-menyikut faksi di tubuh Golkar. Berkali-kali ia menegaskan bahwa masa baktinya memang telah habis per Juni 2026 dan dirinya harus melepaskan baju partai demi sebuah urusan profesional. “(Alasannya mundur) Karena ada pekerjaan saya yang mewajibkan saya untuk nonpartai dulu,” dalihnya mencoba mendinginkan suasana.
Namun, mundurnya sang ketua tanpa meninggalkan “putra mahkota” atau barisan suksesor tentu meninggalkan lubang besar di Golkar Maros. Secara diplomatis, Suhartina mengaku ingin membuka ruang regenerasi total tanpa adanya intervensi dari dirinya. “Saya tidak mencalonkan diri lagi. Saya juga tidak punya calon, siapa pun yang mau maju silakan. Semua pintu terbuka, tidak ada monopoli,” cetusnya menegaskan kebebasan mutlak bagi para pemburu kursi ketua baru.
Kejanggalan lain yang disorot publik adalah absennya Suhartina di arena Musda Sulsel yang sangat krusial tersebut. Saat elite Golkar bersitegang di Makassar, ia justru memilih terbang ke tanah suci untuk umrah dan hanya mengirimkan sekretaris serta bendaharanya sebagai perwakilan. Apakah ini murni perjalanan spiritual atau sebuah manuver “cuci tangan” dari panasnya tensi politik Golkar Sulsel? Yang pasti, keputusan nonpartai Suhartina kini menjadi teka-teki baru: ke mana langkah politik sang mantan ketua Maros ini selanjutnya berlabuh? (rei)















