Ketika Jaksa Berdarah Batak Mewakafkan Hati untuk Kebudayaan Sulawesi Selatan

Jampidum Kejaksaan Agung RI Dr Leonard Eben Ezer Simanjuntak SH MH, dengan background mesjid Baitul Adli yang dikonsep Leo, sarat budaya 4 etnik sulsel

NETSULSEL | ​Makassar, Di sudut kedai kopi Jalan Anggrek Raya, Makassar, derai tawa hangat memecah kekakuan status pejabat tinggi negara. Pria dengan senyum lepas itu adalah Dr. Leonard Eben Ezer Simanjuntak, S.H., M.H. Publik mengenal sosoknya yang meroket baru saja didapuk sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Umum (Jampidum) Kejaksaan Agung RI setelah sebelumnya memimpin Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan. Namun di cangkir kopinya yang hangat, tak ada sekat. Leonard adalah pribadi yang terbuka, jenaka, dan membumi.

Leonard saat bercengkerama santai dengan tamu Kedai 17 jl.Anggrek Raya kota Makassar

​Akan tetapi, manakala percakapan bergeser ke topik kebudayaan, binar di matanya mendadak mengeras. Mimiknya berubah khidmat. Di sanalah letak ironi sekaligus keindahan dari seorang “Bang Leo”, ia seorang pria berdarah Batak, memeluk keyakinan non-Muslim, namun menyimpan kecintaan yang teramat dalam bahkan hampir terasa seperti kerinduan spiritual pada jalinan peradaban Sulawesi Selatan.

​Bagi Leonard, tanah tempatnya pernah bertugas ini bukan sekadar wilayah administratif, melainkan panggung besar sejarah peradaban bangsa yang ditopang empat pilar utama: Bugis, Makassar (Gowa), Toraja, dan Mandar.

​”Empat etnik besar ini adalah pilar kejayaan yang menunjukkan betapa besarnya bangsa kita. Sayang sekali ketika Mandar memisahkan diri secara administratif, walau akar budayanya tetap satu jalinan,” tutur Leonard dengan nada bicara penuh kehati-hatian.

Gelisah di Tengah Memudarnya Siri’ na Pacce
​Kekaguman Leonard pada Sulawesi Selatan bukan sebatas puji-pujian dangkal. Ia melahap literatur I La Galigo karya berbagai penulis, mengoleksinya di rak perpustakaan pribadi, hingga mengagumi artefak sejarah dari megahnya Balla Lompoa di Sungguminasa hingga bentukan presisi badik dan keris lokal. Yang paling merasuk ke relung jiwanya adalah falsafah Siri’ na Pacce, sebuah prinsip harga diri, keadilan, dan empati mendalam yang menjadi pegangan hidup masyarakat setempat.

​Namun, di balik kekaguman itu, tersimpan kegelisahan yang memburu. Leonard menyimpan duka sekaligus keprihatinan tajam melihat realitas hari ini, budaya yang begitu agung justru kerap ditelantarkan oleh anak cucunya sendiri.

​Ia kerap melontarkan keprihatinannya atas tumpulnya kepedulian masyarakat dan para pemangku kebijakan. Aksara Lontara, misalnya, kini kian asing di jari jemari generasi muda. Mereka mungkin mengenalnya sebagai lambang, tetapi kehilangan pemaknaan atas roh filsafat di dalamnya.

​”Lihat sejarahnya, dulu Majapahit sejauh itu datang ke Soroako Luwu hanya untuk mengambil nikel sebagai bahan keris. Bangsa Jepang dan Tiongkok datang ke Bulukumba untuk memesan Kapal Phinisi karya maestro Bira. Kenapa kini warga pemilik warisan agung ini justru bersikap acuh?” sentil Leonard mendalam.

Sketsa di Udara, Masjid Empat Etnik
Pemberontakan batin seorang Leonard tak berhenti pada retorika dan keluh kesah. Wujud cinta konkritnya terukir pada megahnya bangunan masjid yang kini berdiri di halaman kantor Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

​Kisah di balik masjid itu terlahir dari keterasingan yang dirasakan Leonard. Ia heran melihat rumah-rumah ibadah di Sulawesi Selatan yang terkesan ‘miskin’ akan sentuhan arsitektur lokal, padahal daerah ini kaya akan seni visual dan filosofi kebudayaan.

​Di atas kursi pesawat dalam sebuah penerbangan, berbekal selembar kertas dan pulpen, jemari pria berdarah Batak ini menorehkan garis demi garis sketsa kasar. Sebuah gagasan yang memadukan keindahan empat etnik besar tanpa sekat dogma:

​Struktur Utama: Membentuk lengkung gagah Kapal Phinisi (simbol ketangguhan bahari).

​Kubah: Mengadopsi perpaduan Songkok Recca khas Bone dan Patonro khas Makassar.

​Dinding: Dihiasi Relief ukiran Toraja yang sarat makna spiritualitas.

​Menara Syahadatain: Berornamen artistik khas Mandar.

Coretan tangan itu kemudian diserahkan kepada arsitek profesional asal Makassar untuk diterjemahkan menjadi nyata. Kini, bangunan masjid tersebut berdiri anggun menjadi simbol integrasi budaya, tempat bertemunya insan kejaksaan dan masyarakat umum dalam penguatan kerohanian serta kebersamaan.

Pemantik Kesadaran di Haul Syekh Yusuf
​Kepedulian Leonard terhadap peradaban Sulawesi Selatan kembali terbukti saat ia menjadi pemantik lahirnya Haul Akbar Syekh Yusuf Al-Makassari di pelataran Masjid Syekh Yusuf, Kabupaten Gowa.

Leonard saat memantik kesadaran akam budaya didalam acara Haul Syekh Yusuf Al Makassary di Kab.Gowa

​Acara yang berlangsung khidmat itu menghimpun ribuan warga, ulama, hingga tamu mancanegara dari Palestina dan Afrika. Menariknya, perhelatan akbar ini terselenggara tanpa kemewahan lembaran undangan khusus maupun sokongan dana pemerintah. Rakyat hadir secara murni karena rasa hormat pada Tuanta Salamaka.

​Bagi Leonard, peristiwa itu adalah refleksi dari kebudayaan yang bernyawa.

​”Lihat perjuangan Syekh Yusuf. Tanpa jabatan pun beliau tetap berjuang. Apa pun jalan hidup kita, mari kita sumbangkan seluruh warna jiwa untuk bangsa dan negara. Itulah hakikat berguru pada keteladanan beliau,” pungkas Leonard.

​Di akhir percakapan di kedai kopi sore itu, tersirat pesan kuat dari seorang Leonard Eben Ezer Simanjuntak: kebudayaan tidak memandang garis keturunan. Cinta pada tradisi lahir dari jiwa yang tahu cara menghargai peradaban. Jika seorang putra Sumatra bisa begitu gigih merawat warisan Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar, lantas bagaimana dengan kita yang menjejakkan kaki di tanah sang leluhur? (ita)