NETSULSEL | Watampone, Kursi Ketua DPRD Kabupaten Bone mendadak dingin dan hampa. Di tengah sorotan tajam publik atas dugaan aksi premanisme berkedok emosi pelayanan, Ketua DPRD Bone, Andi Tenri Walinonong, justru memilih jalan melipir. Pasca dilaporkan ke polisi akibat dugaan penganiayaan terhadap stafnya sendiri, sang pimpinan dewan secara mengejutkan absen total dari agenda krusial Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).
Tak hanya mangkir dari rapat pimpinan daerah di Baruga Lateya Riduni, Rumah Jabatan Bupati Bone pada Senin (27/7), Andi Tenri juga dilaporkan bak ‘ditelan bumi’ dan tak lagi menampakkan batang hidungnya di Kompleks Kantor DPRD Bone.
Kegiatan bernilai strategis yang dirangkaikan dengan Pengukuhan Tim Terpadu P4GN se-Kabupaten Bone itu padahal dihadiri jajaran top elite daerah: Bupati Bone Andi Asman Sulaiman, Dandim 1407/Bone Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, Wakapolres Bone Kompol Antonius, hingga Kepala BNNK Bone. Ironisnya, ketika seluruh pucuk pimpinan Forkopimda berdiri sejajar, parlemen Bone justru ompong tanpa perwakilan.
”Diundang, karena Forkopimda. Ketua DPRD yang diundang,” ungkap Gunaldi Ukra, Kepala Kesbangpol Bone
Bukan cuma Andi Tenri yang menghilang tanpa kabar, seluruh legislator dari gedung rakyat tersebut seolah ‘kompak’ bungkam dan enggan pasang badan. “Tidak ada anggota DPRD yang hadir. Tidak ada juga konfirmasinya,” lanjut Andi Gunadil mempertegas isolasi politik yang terjadi.
Skandal Perkara Kue. Ketika Kekuasaan Dipakai Mempermalukan Rakyat Kecil
Mangkirnya Ketua DPRD Bone dari panggung resmi pimpinan daerah ini merupakan kelanjutan dari drama memalukan yang terjadi di kantin DPRD Bone, Rabu (22/7) lalu. Andi Tenri diduga kuat melakukan aksi penganiayaan dan intimidasi terhadap Yuli Nofita Sari (29), seorang tenaga PPPK Paruh Waktu, hanya gara-gara urusan sepele, hidangan kue tamu.
Tanpa canggung memperagakan kesewenang-wenangan jabatan di depan umum, Andi Tenri melemparkan kue hingga menyiramkan air botol ke arah stafnya tersebut. Merasa harkat dan martabatnya diinjak-injak, Yuli memilih melangkahkan kaki ke Polres Bone untuk menuntut keadilan hukum hari itu juga.
Aksi arogan ini kian menyulut kemarahan publik setelah Yuli mengungkap bahwa insan Sekretariat DPRD yang menyaksikan kejadian tersebut hanya diam seribu bahasa.
”Paling bikin kecewa, laki-laki banyak di lokasi kejadian. Tetapi tidak ada satupun bersikap manusiawi untuk hentikan saat saya dilempar dan disiram,” cerita Yuli yang beredar di sosial media.
Peta Politik Memanas. Menanti Sanksi Hukum dan Keberanian Etik Dewan
Absennya Andi Tenri dari hajatan resmi daerah menjadi indikasi kuat betapa terguncangnya konsolidasi politik di tubuh DPRD Bone pasca-skandal ini menggelinding ke ranah hukum. Publik kini mendesak Badan Kehormatan (BK) DPRD Bone tidak ikut ‘sembunyi’ dan segera memproses dugaan pelanggaran etik berat yang mencoreng institusi wakil rakyat tersebut.
Aksi lempar kue dan siram air yang berujung laporan polisi ini tak lagi sekadar perkara perselisihan internal kantor, melainkan cermin krisis kepemimpinan dan penyalahgunaan kekuasaan. Kini, bola panas ada di tangan aparat Polres Bone dan jajaran dewan: apakah hukum serta etik bertaji menegakkan keadilan, atau justru menguap bersama hilangnya pimpinan dewan dari panggung publik?











