BOSS nya MBG Tekankan, Guru Harusnya tak Urusi Lagi Omprengan MBG Siswa.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menanggapi keresahan para tenaga pendidik yang mengemuka hingga sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh sekali pun mengikis waktu krusial belajar-mengajar di kelas.

NETSULSEL | Jakarta, ​Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menanggapi keresahan para tenaga pendidik yang mengemuka hingga sidang uji materi di Mahkamah Konstitusi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh sekali pun mengikis waktu krusial belajar-mengajar di kelas.

​BGN menegaskan garis batas yang jelas: seluruh urusan teknis, logistik, hingga pengumpulan wadah makanan adalah tanggung jawab penuh petugas khusus (Person in Charge/PIC) yang disiagakan dan diberi insentif resmi di setiap sekolah. Guru tidak boleh dibebani oleh kerumitan operasional tersebut!

​”Kami terus koordinasi dengan Kementerian Dikdasmen. Ada anggapan bahwa seolah-olah guru itu terganggu jam belajar mengajarnya karena harus mengurusi ompreng, itu seharusnya tidak. Di setiap sekolah ada PIC yang kemudian ada insentif dari kami untuk membantu proses distribusi Makan Bergizi Gratis ini di kelas-kelas. Ada PIC-nya dua orang,” tegas Sudaryono.

​Peran strategis guru dalam program MBG harus dikembalikan pada misi mulia yang mendidik: menjadi teladan, mendampingi anak-anak saat makan bersama, menanamkan kedisiplinan, serta mengedukasi pentingnya gizi bagi tumbuh kembang mereka.

Guru ini tugas tambahannya adalah ikut menyertai makan bersama murid-muridnya dalam rangka edukasi kepada siswa di kelas. Sudah cuci tangankah, antre mengambil ompreng, duduk, berdoa, makan dengan baik, dijelaskan kandungan gizinya, termasuk dimakan sebelum jam berapanya,” ujar Sudaryono.

​Setiap pendidik diinstruksikan untuk bertindak tegas memandu dan memastikan makanan MBG dihabiskan langsung di sekolah. Makanan tidak boleh dibawa pulang demi mengantisipasi penurunan kualitas sajian yang berpotensi memicu masalah kesehatan.

“Manakala nanti ada yang membawa pulang maka kita beri anjuran jangan dibawa pulang, takutnya menjadi penyebab kasus keracunan. Di banyak tempat misalnya ada yang membawa pulang. Karena dimakan di rumah sudah rusak, kemudian sakit perut misalnya, lalu berobat ke puskesmas… akhirnya ramai-ramai datang ke puskesmas untuk mengecek apakah keracunan atau tidak,” tambah Sudaryono.

​Mari kembalikan fokus kelas pada marwah utamanya: mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan yang fokus, didukung nutrisi yang kuat, dan dijalankan dengan pembagian peran yang profesional serta penuh tanggung jawab. (baba)