Menanggalkan Wajah Anarki, Menjemput Era Emas, Transformasi Unhas Lewat Tradisi Juara Mahasiswa

Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa (Prof. JJ), saat menyambut ribuan mahasiswa baru di Kampus Tamalanrea, Makassar. Di hadapan generasi muda penerus bangsa, Prof. JJ menegaskan bahwa identitas Unhas tak lagi ditentukan oleh kepalan tangan di jalanan, melainkan oleh kekuatan pemikiran dan karya ilmiah di gelanggang akademik.

NETSULSEL | Makassar, Wajah Universitas Hasanuddin (Unhas) kini merekam babak baru dalam sejarah pendidikan tinggi Indonesia. Kampus Merah yang dahulu kerap dilekatkan pada stereotype aksi demonstrasi anarkis dan konflik antar-fakultas di media sosial maupun publik, kini mengukuhkan transformasinya sebagai episentrum prestasi ilmiah nasional.

​Semangat perubahan tersebut digaungkan langsung oleh Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa (Prof. JJ), saat menyambut ribuan mahasiswa baru di Kampus Tamalanrea, Makassar. Di hadapan generasi muda penerus bangsa, Prof. JJ menegaskan bahwa identitas Unhas tak lagi ditentukan oleh kepalan tangan di jalanan, melainkan oleh kekuatan pemikiran dan karya ilmiah di gelanggang akademik.

​”Semangat prestasi inilah yang menjadi pegangan karakter Unhas. Bukan lagi yang suka berkelahi, bukan lagi yang suka anarkis, atau demo sembarangan yang tidak berarti,” tegas Prof. JJ penuh optimisme.

Mematahkan Dominasi 37 Tahun

​Transformasi Unhas bukan sekadar wacana. Publik nasional mencatat sejarah besar ketika kontingen ilmiah Unhas berhasil membawa Piala Adikarta Kertawidya—piala bergilir supremasi tertinggi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas)—keluar dari Pulau Jawa setelah 37 tahun lamanya. Tradisi juara itu kian kukuh saat Unhas kembali mempertahankan gelar Juara Umum Pimnas secara berturut-turut pada 2025 dengan dominasi medali dua kali lipat dibanding peringkat kedua.

​Capaian historis ini menjadi bukti konkret bahwa mahasiswa dari kawasan timur Indonesia memiliki kapasitas intelektual sepadan, bahkan melampaui berbagai perguruan tinggi papan atas lainnya. Prof. JJ mengingatkan para mahasiswa baru agar menanggalkan rasa minder dan membesarkan rasa bangga terhadap almamater.

​”Piala Adikarta Kertawidya selama 37 tahun selalu berada di Pulau Jawa. Namun, mahasiswa Unhas berhasil membawanya ke Makassar dan mempertegasnya kembali. Kemenangan ini membuktikan kita mampu bersaing dan unggul,” ujar Prof. JJ.

Sinergi Alumni dan Visi Indonesia Emas 2045

​Langkah Unhas mencetak sumber daya manusia unggul juga selaras dengan agenda besar pembangunan nasional. Menurut Prof. JJ, kebiasaan berprestasi mahasiswa adalah modal kunci bagi Indonesia untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle income trap), mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, serta menyongsong Indonesia Emas 2045.

​Perjalanan transformasi Kampus Merah ini turut didukung oleh jejaring alumni yang kuat. Kehadiran Menteri Pertanian Republik Indonesia sekaligus Ketua Ikatan Alumni (IKA) Unhas, Andi Amran Sulaiman, dalam penyambutan tersebut mempertegas sinergi lintas generasi Unhas untuk terus berkontribusi nyata bagi negara.

​Di akhir amanatnya, Prof. JJ membakar semangat para mahasiswa baru untuk tidak sekadar mengejar selembar ijazah, melainkan menggembleng diri menjadi talenta berdaya saing global yang lulus tepat waktu.

​”Selamat datang di Kampus Merah. Jas almamater ini melambangkan semangat yang harus terus membara. Kami siap membersamai adik-adik sekalian untuk menggapai cita-cita—bukan hanya sekadar lulus, tetapi lulus tepat waktu dengan kualitas yang mampu bersaing secara global,” tutupnya. (qas)