Lebih dari Sedekade Menjaga Lansia: Cerita Ketulusan Kader Posbindu Teratai 8 Paropo di Tengah Keterbatasan

Cek Kesehatan Gratis bagi lansia dihalaman Mesjid Ar Rahman Kompleks Maizonet, Kelurahan Paropo Kecamatan Panakukang yang diprakarsai Posbindu Teratai 8 selama satu dekade

​NETSULSEL | ​Makassar, Di pelataran Masjid Ar-Rahman, Kompleks Maizonet, Kelurahan Paropo, Kecamatan Panakkukang, riuh tawa dan gurauan para lanjut usia (lansia) memecah keheningan pagi. Bagi warga RW 08 Paropo, berkumpul di area masjid bukan sekadar untuk beribadah, melainkan juga untuk saling menyapa, merajut silaturahmi, sekaligus memeriksakan kesehatan mereka.

​Selama lebih dari 10 tahun, layanan kesehatan berbasis masyarakat yang digerakkan oleh Pos Binaan Terpadu (Posbindu) Teratai 8 ini telah menjadi tumpuan harapan warga setempat. Namun, di balik senyum para lansia yang datang memeriksakan diri, ada perjuangan ketulusan yang luar biasa dari para kader kesehatan, salah satunya Asdinar Asiz (Kordinator Teknis Posbindu Teratai 8)

​Menjaga Asa Lansia di Tengah Ketidakpastian
​Perjalanan Posbindu Teratai 8 tidak selalu mulus. Berbagai dinamika aturan pelaksana kesehatan sempat membuat layanan ini dihentikan sementara selama dua bulan. Alasan penyesuaian program dan integrasi ke Posyandu sempat mengancam keberlangsungan pemeriksaan kesehatan lansia setempat, mengingat di wilayah mereka belum memiliki Posyandu mandiri.

​Tak tega melihat puluhan lansia kebingungan mencari tempat kontrol kesehatan, Asdinar memberanikan diri menghadap ke Kepala Puskesmas setempat. Bagi para kader, keberadaan tempat pemeriksaan ini adalah kebutuhan vital warga.

​”Kasihan para lansia ini, mau ke mana lagi mereka kalau bukan ke sini?” ujar Asdinar mengenang perjuangannya agar kegiatan pemeriksaan tetap dapat berjalan.

​Berkat kegigihan para kader, layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) akhirnya kembali berjalan sebagai agenda fleksibel, menyesuaikan dengan jadwal luang para petugas kesehatan Puskesmas.

​Swadaya dan Partisipasi: Pengorbanan Demi Kesehatan Bersama
​Keterbatasan alokasi anggaran dan stok strip pemeriksaan medis tidak menjadi penghalang bagi para kader untuk terus mengabdi. Saat alat uji medis seperti strip pemeriksaan kolesterol dan asam urat dari fasilitas kesehatan tidak mencukupi, para kader dan warga saling bahu-membahu secara swadaya.

​Dengan keterbukaan dan rasa kekeluargaan, para kader membuka ruang partisipasi sukarela bagi warga yang ingin memeriksakan kondisi kesehatan secara lebih mendalam.

​”Kalau kas kita sedang menipis, saya katakan sejujurnya kepada ibu-ibu warga. Kita buka partisipasi sukarela khusus untuk pembelian strip pemeriksaannya saja, sementara untuk obat-obatan alhamdulillah tetap difasilitasi oleh Puskesmas,” tutur Asdinar.

​Lebih dari Sekadar Pengobatan: Wadah Silaturahmi Warga
​Setiap kali kegiatan ini digelar, sekitar 50 hingga 60 warga yang mayoritas merupakan lansia hadir dengan penuh antusias. Sasaran pemeriksaan sebenarnya dimulai dari usia 15 tahun sebagai langkah deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes mellitus yang kini kerap menyerang usia muda akibat pola makan. Namun, keberadaan Posbindu Teratai 8 terasa sangat istimewa bagi para lansia.

​Bagi mereka, pemeriksaan kesehatan rutin di Masjid Ar-Rahman ini bukan hanya soal cek gula darah atau tekanan darah, tetapi juga menjadi ajang pengobat rindu untuk saling bertemu tetangga sejawat.

​”Selain untuk mengontrol kesehatan dan mendeteksi penyakit sejak dini, yang paling utama dari kegiatan ini adalah menjaga silaturahmi. Warga bisa kumpul-kumpul, saling bertegur sapa, dan tersenyum bersama,” ungkap Asdinar.

​Di tengah keterbatasan yang ada, semangat gotong royong dan kepedulian antarwarga di RW 08 Kelurahan Paropo ini membuktikan bahwa kesehatan dan kebersamaan adalah investasi sosial yang paling berharga. Lebih dari sepuluh tahun berlalu, dedikasi Ibu Asdinar dan para kader Posbindu Teratai 8 terus menjadi pelita hangat bagi lansia di Kompleks Maizonet.(ita)