Keluarga DN, Lelaki Yang Mengamuk Mengaku Arung Palakka Akui Tidak Gangguan Jiwa, Keluarga Sebut DN Penyayang dan Humoris

Di mata orang-orang terdekatnya, sosok DN bukanlah gambaran ketakutan seperti yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

NETSULSEL | Makassar, Di balik ramainya pemberitaan mengenai insiden di Desa Tanete Harapan, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone pada Senin (17/8/2026), ada duka dan kebingungan mendalam yang tengah dirasakan oleh pihak keluarga. Di mata orang-orang terdekatnya, sosok DN bukanlah gambaran ketakutan seperti yang belakangan ini ramai diperbincangkan.

​Keluarga besar DN menyampaikan klarifikasi tulus untuk meluruskan persepsi publik. Mereka menegaskan bahwa DN sama sekali tidak memiliki riwayat gangguan kejiwaan. Peristiwa memilukan tersebut murni terjadi di luar kendali dan kesadaran pribadi DN.

Sosok Penyayang, Humoris, dan Dihormati
​Bagi warga Desa Parippung, DN bukanlah orang asing. Ia dikenal hangat sebagai salah satu tokoh masyarakat sekaligus tokoh agama yang kerap mengayomi. Sikapnya yang humoris dan mudah berbaur membuat kehadiran DN selalu dinantikan dan dihormati oleh warga sekitar.

​Jamil, saudara sepupu DN, membagikan kesaksiannya dengan nada prihatin. Ia menceritakan bahwa perubahan drastis pada diri DN terjadi begitu cepat seusai mereka melaksanakan tradisi ziarah kubur bersama keluarga di wilayah Kecamatan Cina.

​”Sepupu saya ini sama sekali tidak ada riwayat gangguan kejiwaan. Kemarin itu, menurut informasi dari keluarga, setelah pulang dari ziarah kubur, beliau mendadak tidak sadarkan diri—seperti kesurupan—hingga bertindak di luar kendalinya,” tutur Jamil prihatin.

Perjalanan Penuh Duka dan Kebingungan Keluarga
​Malam itu menjadi momen yang membingungkan sekaligus menakutkan bagi keluarga. Dalam perjalanan pulang ziarah, DN tiba-tiba masuk ke area sungai dan sempat menghilang dari pandangan. Setelah pencarian yang mendebarkan, keluarga berhasil menemukannya di area persawahan dan membimbingnya pulang.

​Namun, duka belum berakhir. Dalam perjalanan di dalam mobil, kondisi kesadaran DN kembali memburuk. Di luar kendali dirinya, DN mengalami pergolakan emosi hebat hingga bertindak agresif kepada keluarga yang berupaya menahannya, hingga berlanjut saat tiba di Desa Tanete Harapan.

​Pihak keluarga memohon maaf mendalam atas kepanikan dan ketidaknyamanan yang dialami warga setempat. Pengikatan sementara yang dilakukan warga di lokasi dipahami keluarga sebagai langkah darurat demi menjaga keselamatan bersama—termasuk keselamatan DN sendiri—saat menunggu pihak berwajib dan keluarga tiba.

Penjelasan Mengenai Benda Pusaka
​Terkait ditemukannya benda tajam berupa keris dan badik saat kejadian, Jamil meluruskan bahwa hal tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan niat ataupun kecenderungan kekerasan. Sebagai pribadi yang menghargai kebudayaan lokal, DN memang memiliki hobi mengoleksi dan menyukai benda-benda pusaka warisan budaya.

​”Memang beliau memiliki ketertarikan dan menyukai benda-benda pusaka. Jadi keris dan badik yang ada itu murni murni barang koleksi pribadi yang beliau sukai, bukan untuk niat buruk,” tambah Jamil.

Harapan Keluarga
​Keluarga kembali menegaskan bahwa apa yang terjadi adalah sebuah musibah tak terduga yang bisa menimpa siapa saja. DN yang dikenal hangat, humoris, dan taat beragama kini tengah membutuhkan penanganan medis dan dukungan moral dari orang-orang sekitarnya.

​Pihak keluarga berharap masyarakat dapat melihat kejadian ini dari sudut pandang kemanusiaan dan tidak memberikan stigma negatif berkepanjangan bagi DN serta keluarga besar. (baba)