
NETSULSEL | Makassar, Matahari Jumat pagi (16/10/2026) baru saja merayap naik, mengusir sisa malam di Jalan Abu Bakar Lambogo, Kecamatan Makassar. Namun, kedamaian pagi itu seketika runtuh oleh dentuman petasan, lemparan batu, serta kilatan senjata tajam.
Di tengah kengerian tawuran antar-kelompok pemuda yang pecah saat fajar, sebuah duka teramat dalam menyisihkan luka abadi. Mansyur (50), seorang buruh harian lepas yang sama sekali tidak tahu menahu soal pertikaian, harus meregang nyawa di atas aspal jalanan tempat ia mengais rezeki.
Kronologi: Ketika Petasan dan Busur Membakar Pagi Buta
Ketegangan pecah seketika pada pukul 06.00 WITA. Berdasarkan data kepolisian, bentrokan melibatkan kelompok pemuda Bara-baraya Induk (Jorjoran) dengan pemuda Bara-baraya Selatan (Lonner).
Pukul 06.10 WITA: Suasana pagi yang tenang di Jl. Abubakar Lambogo mendadak mencekam. Sekelompok pemuda dari kubu Bara-baraya Induk mendatangi kawasan tetangga sambil menyalakan petasan secara provokatif, memicu letupan kemarahan.
Pukul 06.15 WITA: Tak terima wilayahnya disatroni, pemuda Bara-baraya Selatan (Lonner) langsung membalas. Perang kelompok tak terhindarkan. Suasana berubah menjadi medan perang mini; batu, anak panah busur, parang, hingga bom molotov beterbangan di udara, menebar teror bagi warga sekitar yang hendak beraktivitas.
Pukul 06.30 WITA hingga 08.00 WITA: Aparat gabungan dari Polsek Makassar, Tim Jatanras Polrestabes Makassar, Koramil 1408-08/Makassar, hingga 30 personel Sabhara Polrestabes turun tangan membubarkan massa dan mengepung titik rusuh. Sekitar pukul 08.20 WITA, situasi akhirnya berhasil dikendalikan dan arus lalu lintas kembali dibuka.
Jerit Pilu di Balik Korban Jiwa: Mansyur yang Tak Bersalah
Di balik keberhasilan aparat meredam amuk massa, ada nyawa tak berdosa yang melayang sia-sia. Mansyur, seorang kepala rumah tangga berusia 50 tahun yang kesehariannya bertumpu sebagai buruh harian lepas, menjadi korban paling tragis dari ego anak muda yang tersulut emosi sesaat.
Warga Jalan Abu Bakar Lambogo No. 7B ini terjatuh di tengah kekacauan pagi itu. Tanpa sempat mendapatkan pertolongan medis yang memadai di tempat, ia bermakssud hendak melerai dan memanggil anaknya yang berada ditengah-tengah tawuran. Saat itu, Mansyur terkena sebuah benda padat yang mengahntam wajah dan kepalanya hingga jatuh pingsan. Saat dilarikan untuk diselamatkan kondisinya usdah kritis. Namun, takdir berkata lain; nyawa Mansyur tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia saat dirumah sakit.
Kepergian Mansyur meninggalkan lubang kehampaan yang perih bagi keluarganya. Jerih payahnya sebagai buruh harian demi menyambung hidup keluarga seketika direnggut oleh ketololan aksi kekerasan jalanan yang kerap berkedok “geng” pemuda.
Suara Hati Warga: Sampai Kapan Pertumpahan Darah Ini?
Tragedi berdarah ini kembali menampar nurani warga Kota Makassar. Aksi ego sektoral antarkelompok pemuda di kawasan padat penduduk kembali merenggut korban jiwa dari kalangan warga sipil yang tak berdosa.
Kini, warga hanya bisa berharap aparat penegak hukum tidak hanya membubarkan saat kejadian, melainkan mengusut tuntas, menangkap provokator, dan memberikan hukuman setimpal bagi para pelaku yang terlibat dalam perang kelompok maut ini. Agar darah Mansyur tidak menjadi korban sia-sia yang terlupakan begitu saja di atas dinginnya aspal Abu Bakar Lambogo. (ita)
















