Hitung Mundur Eliminasi Massal Pilrek UNM

sketsa (istimewa)
Oleh : Dr. Muhammad Asdar/Alumni S3 UNM

Peta kekuatan di internal Universitas Negeri Makassar (UNM) kini berada dalam tensi tertinggi.Tujuh bakal calon rektor telah resmi mengantongi nomor urut dan memasuki fase krusial menjelang pemungutan suara Senat UNM pada Rabu, 4 November 2026 mendatang.

“Ini bukan sekadar kontestasi akademis, melainkan pertarungan politik kampus yang nyata”. Pungkas Dr. Asdar

Ia pun memastikan dari tujuh figur terkuat, empat dipastikan tersingkir, dan hanya tiga yang akan bertahan untuk melaju ke babak final bersama kementerian.  Tajamnya persaingan ini dipicu oleh komposisi kandidat yang mempertemukan para pemegang otoritas struktural internal saat ini, mantan pejabat strategis, hingga satu-satunya penantang dari luar lingkar kekuasaan Makassar.

Polarisasi Kekuatan dan Adu Strategi

Menurut Dr. Asdar terdapat peta pertarungan menuju 4 November dapat dibaca melalui tiga klaster kekuatan utama yang kini saling berhadapan:

• Faksi Otoritas Aktif: Kehadiran Prof. Andi Aslinda (Nomor 2) sebagai Wakil Rektor I dan Dr. Arifin Manggau (Nomor 5) sebagai Wakil Rektor III menempatkan mereka di posisi strategis. Sebagai bagian dari pimpinan universitas saat ini, keduanya memiliki akses langsung dan kedekatan emosional dengan para anggota Senat aktif, menjadikannya poros utama yang sulit digoyang. Namun, pecahnya suara di tingkat birokrasi rektorat menjadi celah yang bisa dimanfaatkan rival.

• Poros Mantan Pejabat & Dekan Senior: Prof. Sukardi Weda (Nomor 1) dan Prof. Hasmyati (Nomor 6) membawa modal elektoral yang kokoh dari basis massa masa lalu. Prof. Hasmyati, dengan rekam jejaknya sebagai mantan Dekan FIKK dua periode, dikenal memiliki loyalitas akar rumput yang kuat di fakultasnya. Di sisi lain, Prof. Suwardi Annas (Nomor 4) yang merupakan Dekan FMIPA aktif periode kedua, memegang kendali penuh atas suara utusan dari salah satu fakultas terbesar di UNM tersebut. Serta Prof. Eko Hadi Sujiono (Nomor 3) guru besar FMIPA yang pernah menjabat Pembantu Rektor IV tahun 2012-2016.

• Efek Kehadiran Eksternal: Prof. Ismunandar (Nomor 7) dari ITB menjadi variabel paling menarik sekaligus tak terduga. Sebagai satu-satunya figur luar, ia tidak terikat dengan sekat-sekat politik lokal Menara Pinisi. Kehadirannya berpotensi menjadi “jalan tengah” bagi anggota Senat yang menginginkan reformasi total atau terjebak dalam kebuntuan pilihan antara faksi internal.

Hitung Mundur Menuju Eliminasi massal

Bagi ketujuh kandidat, tidak ada ruang untuk kesalahan dalam sisa waktu yang sangat singkat ini. Rangkaian penentu telah dijadwalkan secara ketat:

• 2–3 November 2026 (Penyampaian Visi-Misi): Ini akan menjadi panggung adu tajam gagasan. Forum ini bukan sekadar formalitas, melainkan kesempatan terakhir bagi para calon untuk meyakinkan anggota Senat yang masih ragu (undecided voters) melalui tawaran program kerja yang konkret.

• 4 November 2026 (Sidang Pleno Penyaringan): Hari penghakiman bagi ketujuh kandidat. Senat UNM akan menyalurkan hak suaranya secara tertutup untuk memangkas daftar dari 7 nama menjadi 3 nama calon rektor.

Pada sore hari di tanggal 4 November tersebut, garis demarkasi antara yang menang dan kalah akan ditarik dengan jelas. Tiga nama yang lolos akan langsung dikirim ke meja Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di Jakarta.

“Sementara langkah empat kandidat lainnya dipastikan terhenti total di Menara Pinisi”. Kuncinya