
NETSULSEL | Makassar, Di bawah cerahnya langit Makassar pada Jumat (28/08/2026), gemuruh kebanggaan membahana di Lapangan Satdik 2 Kodiklatal, Jalan Perintis Kemerdekaan KM.17. Ratusan pasang mata menyaksikan parade megah Upacara Pelantikan dan Penyumpahan Prajurit Baru Tamtama TNI AL Angkatan XLVI Gelombang 2. Namun, di tengah barisan dada yang membusung gagah dan derap langkah yang menggetarkan bumi, tersembunyi sebuah kisah pilu yang mengiris sembilu dari seorang pemuda berhati baja, Kelasi Dua (Kld) Amo M. Khayat. Dengan kepala tegak dan mata yang memancar fokus, ia menguncupkan janji setia kepada NKRI di hadapan Wakil Komandan Kodiklatal, Laksamana Muda TNI Singgih Sugiarto, S.T., M.Si., tanpa pernah menyadari bahwa di detik yang sama, ia sesungguhnya telah sebatang kara di dunia ini.
Keringat dan air mata yang menetes selama berbulan-bulan di kawah candradimuka bukanlah perkara mudah bagi Khayat. Sebelum menginjakkan kaki di kesatrian, ibunda tercinta telah lebih dulu berpulang ke rahmatullah, meninggalkan luka mendalam yang belum sepenuhnya sembuh. Dalam sunyinya gemblengan fisik dan mental militer yang luar biasa keras, bayangan wajah sang ayah, Aco, adalah satu-satunya pelita dan motivasi terbesarnya untuk tidak mengalah pada rasa lelah. Setiap deru napas dan langkah tegapnya dipersembahkan hanya untuk satu tujuan mulia: membuat sang ayah tersenyum bangga melihat putranya mengenakan seragam kebanggaan TNI Angkatan Laut.
Namun takdir Ilahi menggariskan ikhtiar yang teramat berat bagi perjalanan hidup prajurit muda ini. Di pertengahan masa pendidikan yang menuntut ketahanan mental tingkat tinggi, sang ayah dipanggil menghadap Sang Pencipta secara mendadak. Demi menjaga keutuhan jiwa, fokus, dan masa depan Khayat agar tidak runtuh di tengah gempuran pendidikan, keluarga besar mengambil keputusan pahit namun penuh kasih sayang: merahasiakan kabar duka tersebut hingga seluruh prosesi penyumpahan selesai. Dalam masa-masa itu, setiap kali Khayat mendapat kesempatan langka memegang telepon untuk mendengar suara ayahnya, pertanyaan yang sama selalu terlontar dengan nada kerinduan yang membuncah.
“Mana Bapak? Kok HP-nya tidak pernah bisa dihubungi? Kenapa Bapak tidak pernah beri ucapan selamat atau semangat untuk saya?” tanya M. Khayat lirih saat menghubungi keluarganya dari dalam kesatrian.
Di balik gagang telepon, tangis paman dan bibinya pecah dalam senyap. Sambil menahan air mata yang menetes membasahi pipi, sang om harus menguatkan hati menyusun kebohongan demi kebaikan dan masa depan keponakannya.
“HP bapakmu rusak, Nak… Bapakmu selalu mendoakanmu dari rumah,” jawab sang Paman, menenangkan hati prajurit muda yang tengah berjuang demi kebanggaan keluarga.
Puncak ujian jiwa itu akhirnya tiba seketika usai terompet penutupan upacara ditiupkan. Saat lapangan dipenuhi isak tangis bahagia dan pelukan hangat para orang tua yang mengalungkan bunga pada anak-anak mereka, Khayat berdiri melangkah mencari sosok yang paling dirindukannya. Kebohongan yang tersimpan rapi itu pun runtuh di balik kenyataan jujur yang disampaikan pihak keluarga. Tangis keharuan pecah di tengah lapangan; tidak ada pelukan hangat dari ayah maupun ibu yang menyambut keberhasilannya hari itu, melainkan panjatan doa sunyi yang membumbung tinggi menuju langit.
Kini, Kld Amo M. Khayat telah resmi menjelma menjadi prajurit sejati Pengawal Samudera Nusantara. Meski senyuman kedua orang tuanya kini hanya tinggal kenangan manis yang tersimpan di dalam dada, ketegaran dan keikhlasan jiwanya telah menjadi bukti bakti tertinggi seorang anak. Di atas samudera luas tempatnya bertugas kelak, nilai juang dan ketabahan Khayat akan selalu menyinari langkahnya—membuktikan bahwa pengorbanan jiwa ini ia persembahkan sepenuh hati demi menghormati leluhur, orang tua, serta kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(syam)










