NETSULSEL | Jakarta, Di tengah hantaman gelombang kekeringan ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia termasuk Indonesia akibat dampak perubahan iklim global, tersimpan sebuah fenomena alam yang menakjubkan sekaligus paradoks. Di balik krisis air dan menyusutnya debit waduk, alam seolah membuka kembali lembaran sejarah yang lama terkubur di dasar air.
Sejumlah wilayah yang kerap dijuluki sebagai “pulau” atau daratan asing yang hilang—kembali menyembul ke permukaan setelah puluhan tahun tenggelam. Fenomena ini tidak hanya menyita perhatian publik, tetapi juga menghadirkan sisi positif berupa terungkapnya kembali memori sejarah dan jejak peradaban masa lalu.
Berikut adalah tiga wilayah atau “kampung daratan” di Indonesia yang kembali muncul ke permukaan akibat kemarau panjang beserta sejarahnya:
1. Kampung Somang (Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten)
Sejarah & Lokasi: Terletak di kawasan Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten. Kampung Somang dulunya merupakan permukiman padat penduduk yang kaya akan aktivitas sosial. Demi kelancaran proyek strategis nasional pembangunan Bendungan Karian, warga mulai direlokasi dan mengosongkan wilayah ini secara bertahap. Sejak proses penggenangan, kawasan ini sepenuhnya lenyap dari pandangan dan berubah menjadi dasar perairan waduk.
Kembalinya Daratan: Akibat kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Niño, elevasi air di Bendungan Karian menyusut drastis. Sisa-sisa bangunan, fondasi rumah, hingga struktur jalan yang dulu tenggelam kini kembali menyembul, membentuk daratan kering layaknya pulau kecil di tengah waduk.
2. Permukiman Lama di Waduk Jatigede (Kabupaten Sumedang, Jawa Barat)
Sejarah & Lokasi: Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang menyimpan sejarah panjang pemindahan massal. Sebelum resmi digenangi pada 31 Agustus 2015, kawasan ini adalah pusat permukiman warga yang meliputi belasan desa subur. Ratusan kepala keluarga harus rela meninggalkan tanah kelahiran leluhur mereka demi pembangunan waduk terbesar kedua di Indonesia ini.
Kembalinya Daratan: Saat musim kemarau ekstrem melanda, garis tepian waduk dilaporkan mundur hingga sejauh 300 meter. Penurunan permukaan air yang masif ini memperlihatkan kembali struktur jalan beraspal mulus, reruntuhan rumah warga, hingga lahan-lahan yang dulunya menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
3. Makam dan Perkampungan Kuno Waduk Gajah Mungkur (Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah)
Sejarah & Lokasi: Waduk Gajah Mungkur merupakan salah satu proyek raksasa era Orde Baru yang dibangun antara tahun 1976 hingga 1980. Proyek ini menenggelamkan tidak kurang dari 51 desa yang tersebar di tujuh kecamatan. Penduduknya kala itu harus mengikuti program bedol desa atau transmigrasi besar-besaran, meninggalkan tanah air leluhur yang kini berubah menjadi dasar danau buatan.
Kembalinya Daratan: Setiap kali kemarau panjang melambatnya debit air, daratan tinggi di sekitar waduk yang berisi kompleks makam kuno dan sisa fondasi rumah warga kembali muncul ke permukaan. Fenomena ini menjadi siklus tahunan yang mempertemukan kembali para keturunan warga terdampak dengan tanah asal usul mereka.
Sisi Terang di Balik Bencana: Manfaat Tersembunyi Kemunculan “Pulau” Purba
Meskipun kekeringan membawa dampak negatif bagi sektor pertanian dan ketersediaan air bersih, fenomena tersingkapnya kembali daratan yang hilang ini ternyata mendatangkan sejumlah manfaat positif dari sudut pandang sosial, budaya, dan pariwisata:
Wisata Nostalgia dan Pelepas Rindu Bagi Warga Lokal Bagi para sesepuh dan mantan warga yang dulu terusir karena pembangunan bendungan, kemunculan kembali kampung halaman mereka menjadi momentum emosional untuk bernostalgia, mengenang masa kecil, dan menunjukkan jejak sejarah kepada generasi muda.
Destinasi Wisata Dadakan & Edukasi Sejarah Fenomena unik ini menarik minat wisatawan lokal, pegiat sejarah, dan fotografer untuk mendokumentasikan situs-situs yang “bangkit dari kubur” tersebut. Hal ini secara tidak langsung menggerakkan roda ekonomi kreatif masyarakat sekitar waduk melalui kunjungan wisata musiman.
Arsip Historis Terbuka Kembalinya struktur bangunan kuno dan jalan tua memberikan kesempatan bagi para peneliti lokal untuk merekonstruksi kembali tata ruang desa tradisional di masa lalu sebelum tenggelam oleh modernisasi infrastruktur air. (ita)






