
NETSULSEL | Maros, Cinta tak pernah memilih tempat untuk mekar, pun tak pernah meminta langit selalu bersih untuk merayakannya. Di batas kabupaten yang mempertemukan Makassar dan Maros, tepatnya di Kecamatan Moncongloe, sebuah kisah tentang keteguhan rasa tertulis dengan indah. Di sana, di Perumahan Bumi Findaria Mas, sebuah janji suci diucapkan bukan di atas altar yang steril, melainkan di tengah kepungan jutaan kubik debu yang berterbangan.

Siang itu, jalan masuk kompleks yang biasanya riuh oleh deru mesin, mendadak berpadu dengan alunan musik dangdut yang mendendang riang. Truk-truk raksasa bermuatan batu kali, bata ringan, semen, dan pasir terus keluar masuk melalui jalur belakang Kelurahan Antang Raya. Manajemen Bumi Karsa Holding Company memang sedang gencar-gencarnya merampungkan target pembangunan 150 unit rumah subsidi baru, demi menggenapi 677 unit yang telah berdiri kokoh sebuah bakti nyata mendukung program 3 juta rumah pemerintahan Prabowo-Gibran lewat Tapera.
Pembangunan berkecamuk, dan bersamanya lahir desau angin yang membawa hujan debu. Jalanan utama kompleks yang sejatinya telah berwujud cor beton megah selebar 9 meter, kini nyaris tak kasatmata. Sepril Pammai, salah satu unsur pimpinan perusahaan, mengakui bahwa infrastruktur jalan sengaja dibangun terlebih dahulu sebelum fisik rumah berdiri. Namun kini, beton-beton itu bersembunyi pasrah di bawah selimut tanah dan pasir yang luruh dari roda-roda truk raksasa.
Namun, bagi mereka yang hatinya telah terpaut, debu-debu itu hanyalah saksi bisu yang tak berdaya menghalangi takdir.

Ketika Resepsi Menantang Jelaga
Tepat di Blok D, sebuah tenda pernikahan berdiri dengan anggun. Pemilik hajat adalah Zainuddin, seorang pengusaha bengkel las lokal yang hari itu melepas sang buah hati menuju gerbang kehidupan yang baru.
Di luar tenda, dunia tampak abu-abu oleh material pembangunan. Namun di dalam tenda, warna-warni kebahagiaan menyala dengan begitu terangnya. Tamu undangan datang silih berganti, memenuhi ruang yang tak seberapa luas itu hingga sesak. Hidangan pesta tersaji terbuka, disantap dengan penuh nikmat tanpa ada rasa cemas. Bahkan, antrean untuk mengabadikan momen bersama kedua mempelai mengular panjang hingga keluar panggung lamming.
Bagi para tamu dan penghuni kompleks yang terbiasa membuka lapak dagangan atau konter pulsa di tengah hilir mudik truk, debu bukanlah musuh. Ia telah menjelma menjadi detak nadi keseharian yang mereka maklumi dengan lapang dada.
”Tidak ada masalah, Pak. Tamu tetap datang berbondong-bondong. Untung tidak hujan, karena kalau hujan justru becek. Kita semua maklum karena Findaria ini sedang giat-giatnya membangun, dan ini semua sifatnya sementara. Kuncinya hanya sabar,” ujar Zainuddin dengan senyum sumringah di sela kesibukannya menyapa tamu.

Pesan Cinta yang Tak Berdebu
Ada filosofi mendalam yang tertinggal dari pelaminan di Blok D hari itu. Debu boleh saja mengotori pakaian, pasir boleh saja hinggap di sudut-sudut tenda, namun ia sama sekali tidak mampu menyentuh, apalagi mengotori, ketulusan sebuah ikatan suci.
Zainuddin mafhum betul akan hal itu. Rasa cinta seorang ayah yang ingin mengantarkan anaknya ke gerbang pernikahan, serta rasa cinta membara antara kedua mempelai, memiliki kekuatan yang jauh lebih besar ketimbang kepulan polusi mana pun.
Pesta hari itu menjadi sebuah anomali yang indah di Bumi Findaria Mas. Sebuah pesan romantis yang lantang berbisik di antara deru mesin dan kepulan tanah: bahwa jika dua hati telah berniat menyatu dalam ikatan suci, bahkan hujan debu paling pekat sekalipun tak akan pernah mampu menghalangi jalannya cinta. Di atas tanah Maros yang sedang membangun, cinta telah membuktikan dirinya sebagai fondasi yang paling kokoh.(ita/syam)











