
NETSULSEL | Makassar, Sebuah terobosan ramah lingkungan dan inspiratif kembali lahir dari civitas akademika Universitas Hasanuddin (Unhas). Melalui Fakultas Peternakan (Fapet), Unhas membuktikan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan dengan berhasil mengelola sebanyak 2.830 kilogram (2,8 ton) sampah organik dari aktivitas harian kampus untuk dikembangkan menjadi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF).
Langkah inovatif ini didukung penuh oleh program Low Carbon Development Initiative–Indonesia Transition Fund (LCDI-ITF), yang berkolaborasi dengan berbagai lembaga penyeimbang iklim global dan nasional seperti Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Bappenas, UK International Development, Oxford Policy Management, serta Carbon Trust.
Berdasarkan data Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Unhas yang dikelola mitra PT Agro Farm Econesia (CycleValue), volume 2,8 ton sampah organik tersebut terkumpul dalam kurun waktu 24 Agustus hingga 18 September 2026. Melalui 18 kali jadwal pengangkutan rutin, kampus merah ini rata-rata berhasil menyerap dan mengolah sekitar 134 kilogram sisa makanan setiap harinya.
Adapun sumber utama limbah organik ini berasal dari tiga titik vital aktivitas kampus, yakni Unhas Hotel & Convention (UHC) yang menyumbang porsi terbesar yaitu 1.710 kg (60,4%), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Unhas sebanyak 693 kg (24,5%), serta unit bisnis F&B Hadin sebesar 427 kg (15,1%).
Ubah Sisa Makanan Menjadi Solusi Pakan Ternak Masa Depan
Di tangan para pakar Fapet Unhas, sisa-sisa makanan yang kerap dianggap masalah tersebut justru dialihfungsikan menjadi media tumbuh (pakan) larva lalat BSF atau maggot. Pada tahapan awal, larva mengonsumsi sampah organik secara cepat dan masif, sebelum akhirnya dipindahkan ke fasilitas biopond untuk pematangan.
Hasilnya tak main-main. Selain secara dramatis mengurangi beban sampah ke TPA, proses biologis ini menghasilkan biomassa maggot tinggi protein yang sangat berpotensi menjadi pakan alternatif bernutrisi tinggi bagi ternak dan unggas.
Koordinator Safeguard LCDI-ITF, Dr. Ir. Zulkarnaim, S.Pt., M.Si., IPM., mengungkapkan bahwa program ini bukan sekadar pengolahan limbah biasa, melainkan penerapan model ekonomi sirkular berbasis ilmu peternakan.
“Pengelolaan sampah organik melalui budidaya maggot BSF memberikan pendekatan biologis dalam memanfaatkan sisa makanan. Bahan organik yang dikumpulkan dimanfaatkan sebagai media pakan larva, sementara biomassa yang dihasilkan memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan pakan bernilai tinggi di sektor peternakan,” jelas Zulkarnaim.
Ia menambahkan, tracking volume sampah berbasis data dari setiap unit juga membantu pihak kampus memetakan pola timbulan sampah, sehingga sistem mitigasi limbah dapat dievaluasi secara presisi dan berkelanjutan.
Wujud Nyata Dukungan Terhadap Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)
Inisiatif Fapet Unhas ini menjadi aksi nyata dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di tingkat perguruan tinggi, di antaranya:
SDG 2 (Zero Hunger): Menyediakan alternatif pakan ternak tinggi protein untuk ketahanan pangan.
SDG 12 (Responsible Consumption and Production): Menerapkan siklus daur ulang sisa makanan kampus secara bertanggung jawab.
SDG 13 (Climate Action): Mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembusukan sampah organik di tempat pembuangan akhir.
SDG 15 (Life on Land): Mendorong ekosistem dan tata kelola lingkungan darat yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Melalui kemitraan strategis bersama LCDI-ITF, Fapet Unhas berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kapasitas pengolahan sampah berbasis BSF ini—mulai dari tata kelola input bahan baku, standarisasi pemeliharaan larva, hingga pemanfaatan komersial biomassa pakan. Langkah ini menegaskan posisi Unhas sebagai salah satu pelopor Green Campus yang bertransformasi dari pusat pendidikan menjadi laboratorium solusi bagi lingkungan dan masyarakat.
















