NETSULSEL | Makassar, Jalan Toddopuli pada Minggu dini hari (28/6/2026) mendadak berubah jadi panggung “uji nyali” gratisan. Sekelompok pemuda lokal yang tampaknya kebanyakan mengonsumsi film aksi, nekat menggelar festival parang ilegal yang sukses membuat warga sekitar senam jantung.
Bintang utama dalam sirkus jalanan ini adalah seorang pemuda bernama Wawan. Bukan Wawan namanya kalau tidak bikin heboh. Dengan penuh percaya diri dan modal nekat, Wawan mengayunkan parangnya ke segala arah, termasuk ke arah seorang pria yang ternyata adalah Briptu A, personel Polsek Rapoccini yang sedang bertugas.
Detik-detik Mendebarkan: Sabetan parang Wawan dilaporkan hampir saja membuat leher Briptu A “pindah alamat”. Beruntung, refleks sang polisi lebih cepat daripada kecepatan berpikir Wawan malam itu.
Korban Random dan Alasan “Cosplay” Musuhan
Tidak puas hanya menyasar aparat yang seragamnya sudah jelas-jelas bukan baju tidur, geng Wawan ini juga mencoba peruntungan mereka dengan menyasar para pengendara motor yang lewat.
Kasi Humas Polrestabes Makassar, Kompol Wahiduddin, sampai geleng-geleng kepala saat mengonfirmasi kelakuan minus kelompok ini.
“Kelompok tersebut juga diduga hendak menebas pengendara yang melintas. Pokoknya siapa saja yang lewat mau diajak kenalan pakai parang,” kira-kira begitu terjemahan bebasnya.
Kapolsek Rapoccini, Kompol Ismail, juga membenarkan bahwa anggotanya hampir saja menjadi korban potongan rambut paling ekstrem sedunia oleh Wawan di Jalan Toddopuli.
Akhir dari Pelarian Sang “Pendekar”
Setelah bikin huru-hara bak gladiator gagal di malam hari, nyali Wawan tampaknya langsung menyusut drastis saat matahari terbit. Pada Minggu sore, polisi berhasil menciduk Wawan di sekitaran Toddopuli tanpa perlu drama kejar-kejaran ala Hollywood.
Saat diinterogasi di kantor polisi, Wawan mendadak mengeluarkan jurus klasik: Alasan Bertahan Hidup.
Pengakuan Wawan: “Saya bawa parang karena kira mau diserang musuh dari Toddopuli, Pak…”
Respon Polisi, Tentu saja tidak langsung percaya.
Penyidik menduga alasan “dikira musuh” itu hanyalah drama melow Wawan agar tidak dihukum berat. Lagipula, sejak kapan polisi seragaman dikira musuh antar-gank?
Saat ini, Wawan harus rela mendekam di hotel prodeo sambil merenungi nasibnya, sementara teman-teman “seperjuangannya” yang lain sedang diburu polisi dan otomatis masuk daftar pencarian orang (DPO). Jalan Toddopuli kini kembali aman dari festival parang dadakan. (ita)











